Newest Post

The Future - Page I -

| Sabtu, 01 Oktober 2011
Baca selengkapnya »
***


PAGE I : A JOURNEY TO THE FUTURE!


***


Di suatu waktu, di sebuah tempat bernama Time Village, hiduplah dua orang anak yang bernama Tobi dan Nail. Mereka berdua adalah sahabat baik semenjak kecil, dan tidak dapat dipisahkan hingga kini mereka mulai beranjak remaja.

Kedua orang remaja ini menyukai hal-hal yang berbau petualangan. Oleh karena itulah, mereka sering melakukan perjalanan ke suatu tempat demi memuaskan keinginan mereka. Salah satu tempat yang sering mereka kunjungi adalah bukit dekat desa mereka.

Tempat itu jarang sekali dikunjungi orang, dan oleh karena itu mereka dapat bersantai dengan tenang dan menyegarkan pikiran serta fisik mereka di sana.

Suatu hari, mereka tengah berada di tempat kesukaan mereka itu. Nail tengah bersantai memandangi langit biru di atas bukit agar dapat menenangkan pikirannya, sementara itu Tobi tengah sibuk berjalan-jalan di sekitar bukit tanpa tujuan yang jelas.

Tidak lama kemudian tiba-tiba Tobi berteriak memanggil Nail, “Nail! Coba kemari! Rasanya aku menemukan suatu benda yang aneh dan menarik!” Panggilnya.

“Ada apa sih? Padahal aku sedang santai begini.” Sahut Nail kesal karena istirahatnya terganggu.

“Sudahlah, cepatlah kemari. Kau pasti nanti juga akan tertarik!” Kata Tobi merayu.

Nail bangkit lalu berjalan ke arah Tobi dengan langkah malas. “Jadi, apa yang ingin kau tunjukan kepadaku itu?” Tanyanya.

Tobi menunjuk sebuah benda yang tergeletak tidak jauh dari tempat mereka berada. “Kau lihat benda hitam di sana? Nampaknya benda itu mencurigakan.” Katanya.

“Hmmm. . . Memang agak mencurigakan sih, tapi lebih baik kita tidak terlalu memikirkannya, aku merasakan firasat yang tidak enak kalau kita mengambil benda itu.” Ujar Nail menyarankan.

“Heeee. . .? Jawabanmu kurang memuaskan, kukira kau akan berpikir sama denganku untuk mengambil benda itu.” Kata Tobi kecewa.

“Haaaah, karenanya aku bilang kan, benda itu bisa saja benda berbahaya atau benda beracun, bahkan mungkin saja benda itu adalah bom yang dibuang oleh sebuah kelompok penjahat.” Jelas Nail kepada Tobi.

“Ah! Tapi aku sudah terlanjur memegangnya.”

“Apa maksudmu. . . Kau sudah memegangnya!?”

Tobi tersenyum sambil melambai-lambaikan benda dalam genggamannya itu. Benda itu ternyata adalah sebuah buku yang memiliki sampul berwarna hitam.

“Cepat lepaskan! Kita masih belum tahu buku apa itu sebenarnya!” Seru Nail agar Tobi membuang buku di tangannya itu.

Bukannya menuruti saran Nail, Tobi malah mulai membuka halaman demi halaman dari buku tersebut dan melihatnya dengan seksama. Nail yang kesal berjalan ke arah Tobi lalu merebut buku itu dari tangan Tobi.

“Sudah kubilang kan untuk melepaskan buku ini!”

“Tapi rasanya buku itu misterius dan menarik.”

“Kita ini masih belum tahu buku ini jadi jangan coba untuk menyentuh atau membacanya!”

“Ah, tapi kau juga sudah menyentuhnya. . .”

Nail menoleh ke arah tangannya sendiri yang tengah menggenggam buku tersebut. “Ah, kau benar, kita berdua sudah memegangnya. Kalau begitu lebih baik kita lihat saja sekalian isi buku ini.”

“Kau benar-benar berubah pendapat dalam sekejap, Nail.” Komentar Tobi.

“Sudahlah! Kita lihat saja isi buku misterius ini.” Balas Nail.

Mereka berdua kemudian mulai membuka halaman demi halaman dari buku tersebut dan mengamati isinya secara teliti.

Pertama, halaman depan. Sampul buku tersebut berwarna hitam dengan judul buku yang ditulis dengan tinta berwarna emas, buku itu berjudul “The Future”.

Kedua, mereka membuka halaman dari buku tersebut. Tapi, mereka sama sekali tidak mendapatkan satu tulisan pun di halaman buku itu. Mereka kembali membolak-balik buku tersebut beberapa kali, tapi mereka tetap tidak mendapatkan apapun dari isi buku tersebut.

“Kau bisa membaca buku ini sendirian.” Nail menyerahkan buku di tangannya itu kepada Tobi. Tentu saja Tobi menerimanya dengan senang hati.

“Terima kasih, Nail. Aku memang penasaran dengan buku ini.”

“Aku sebenarnya ingin langsung membuangnya. Kau tadi juga lihat kan? Tidak ada apapun dalam buku itu, bahkan tidak ada setitik tinta pun yang tertoreh di sana.”

Tobi tidak terlalu memperhatikan perkataan Nail itu dan sibuk membolak-balik halaman demi halaman dari buku tersebut.

“Nail, kau yakin tadi kau membuka halaman buku ini dengan benar?” Tanya Tobi ragu.

“Tentu saja! Kau lihat sendiri kan tadi? Mana mungkin aku salah.” Jawab Nail dengan sangat yakin.

“Tapi. . .”, Tobi memperlihatkan salah satu halaman yang terdapat sebuah kata di sana. “Kau lihat ini kan? Di halaman ini ada tulisan meskipun hanya beberapa huruf.” Kata Tobi.

Nail kembali merebut buku bernama “The Future” itu dari tangan Tobi lalu membacanya sendiri. Dia kembali membaca satu persatu halaman buku itu demi meyakinkan dirinya sendiri. Tidak ada satupun halaman dari buku itu yang terdapat tulisan kecuali halaman yang ditunjukan Tobi barusan.

“Aneh. . . Padahal seharusnya tidak ada tulisan ini tadi.” Kata Nail heran.

“Sudahlah, mungkin kau tadi hanya tidak teliti saja.” Tobi mengambil kembali buku di tangan Nail.

“Oh ya, tulisan apa yang tadi tertulis di halaman buku itu?”

“Hmm. . . Biar kulihat, ah! Tulisannya adalah “ML” dan ditulis dengan tinta berwarna merah.”

“Sudah kuduga ini aneh. Tulisan dengan tinta merah dan muncul tiba-tiba, ini. . .”

PLUK!

“Sudahlah, Nail. Jangan terlalu memaksakan dirimu menjadi detektif seperti itu, bagaimanapun juga kita ini masih remaja ingusan.” Kata Tobi sembari menepuk pundak sahabatnya.

DUAGH!

Nail memukul kepala Tobi dengan keras hingga dia tersungkur jatuh. “Kau ini! Aku sedang memikirkan masalah buku ini dengan serius, jadi jangan berkomentar seenaknya begitu!” Omel Nail.

“A-Aw! Kau tidak perlu memukulku sekeras itu juga kan?” Protes Tobi sembari mengelus kepalanya sendirinya yang terasa sakit.

“Kita harus melakukan sesuatu dengan buku ini.” Usul Nail.

“Memang apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya Tobi.

“Aku curiga dengan tinta merah yang digunakan untuk menulis huruf itu. Mungkin saja itu adalah bekas darah dari suatu pembunuhan.” Jelas Nail kepada Tobi.

“Ma-Maksudmu buku ini adalah buku dari suatu kejahatan?” Tanya Tobi lagi.

“Yah, mungkin seperti itulah.” Jawab Nail.

Tobi dengan terburu-buru melangkah meninggalkan Nail.

“Kau mau kemana, Tobi?”

“Sudah jelas kan? Kalau ini adalah bukti pembunuhan berarti kita harus menyerahkan kepada pihak yang berwajib.”

Nail mencengkram lengan Tobi dan menariknya agar dia tidak berjalan lebih jauh. “Bukan begitu juga maksudku. Yang kumaksud adalah kita harus bertanya kepada seseorang yang mengetahui segalanya.” Jelas Nail agar Tobi tak salah paham.

“O-Orang yang mengetahui segalanya? Jadi maksudmu kita kan menemui orang itu?”

“Ya, orang itu. Mac Brief, tetua di desa kita yang dikenal sebagai orang yang tahu segalanya.”

“Kalau begitu ayo! Kita tidak bisa buang waktu lagi.” Kata Tobi tidak sabaran.

Nail kembali menarik lengannya, “Jangan terlalu terburu-buru, meskipun ini mungkin berbahaya tapi kita juga tidak boleh bergerak secara sembrono.” Nail memberi peringatan.

“Oke, oke. Kalau begitu mari bergerak secara tidak sembrono!” Tobi kini berjalan dengan mengendap-endap layaknya seorang pencuri.

DHUAK!

Nail kembali memukul kepala Tobi dengan keras. “Bukan begitu juga maksudku bodoh! Yang kumaksud tidak sembrono dan hati-hati itu bukan seperti itu.” Kata Nail dengan kesal.

Akhirnya, mereka berdua pun mulai menuruni bukit dengan hati-hati. Perlu diketahui, jalan menuju ke bukit itu sangat terjal, jadi salah sedikit saja bisa-bisa seseorang yang naik ataupun turun bukit bisa terpeleset dan jatuh ke tebing yang tingginya cukup untuk membunuh seseorang.

“Aku dari dulu sebenarnya berpikir, kenapa kita setiap kesini selalu melewati jalan ini?” Tanya Tobi penasaran sambil melangkahkan kakinya dengan sangat berhati-hati.

“Kenapa? Ini kan cuma satu-satunya jalan untuk menuju ke sini.” Jawab Nail.

“Memang benar sih, tapi kalau kupikir-pikir sebenarnya setiap kita kesini kita selalu membahayakan diri kita sendiri.”

“Kau memang benar, tapi kita memang suka petualangan kan? Jadi jangan terlalu dipikirkan.”

“Yah, kau benar juga, Nail. Ini adalah salah satu tempat terbaik yang dapat kita temukan setelah melakukan beberapa kali petualangan.”

“Hm, ngomong-ngomong di depan sudah ada jalan turun, berhati-hatilah.” Ujar Nail memperingati Tobi.

“Osh! Tentu saja aku akan berhati-hati!” Sahut Tobi bersemangat.

Kedua orang remaja itu tak lama kemudian berhasil turun ke jalan setapak menuju ke desa mereka. Mereka pun menyusuri jalan itu dengan perlahan sambil menikmati pemandangan hijau di sekitar mereka.

“Mac Brief pasti akan terkejut ketika kita pulang membawa ini.” Seru Tobi senang.

“Yah, mungkin saja. Dia juga kan orang yang menyukai petualangan seperti kita.” Sahut Nail.

Siapa sebenarnya Mac Brief ini?

Mac Brief bisa dibilang teman baik kedua remaja ini. Dia adalah seorang kakek tua yang memiliki berbagai pengalaman dalam hidupnya sehingga dijuluki sebagai “The Man Who Knows Everything.”. Kebetulan karena kedua remaja ini menyukai cerita petualangan pria tersebut, mereka berdua sering berkunjung ke rumah pria itu hingga akhirnya mereka bersahabat baik dengan kakek tua yang tinggal sendirian di rumahnya itu.

“Oh ya Nail, apa kau ingat janjinya ketika kita terakhir berkunjung ke rumahnya?”

“Ah aku ingat itu! Dia berjanji kepada kita untuk menceritakan petualangan terbesarnya, kan?”

“Benar! Aku sudah tidak sabar untuk mendengarkan apa kisah terhebat yang pernah dialaminya.”

“Ya, pasti itu sebuah kisah yang hebat. Aku harap kita juga dapat memilikinya suatu hari.”

“Tentu saja kita bisa! Kita kan bukan dua orang remaja biasa, hahaha!”

“Kau ini, Tobi. . . Hm?” Nail mulai merasa curiga dengan suasana aneh yang dia rasakan di sekelilingnya.

“Ada apa Nail?” Tanya Tobi heran melihat perubahan ekspresi di raut wajah Nail.

“Entahlah, tapi aku merasakan ada hal yang aneh selama kita berjalan.” Jawabnya dengan menolehkan wajahnya kesana-kemari.

Tobi ikut-ikutan memalingkan wajahnya seperti Nail, tapi dia tetap tidak mengerti apa yang dimaksud dengan keanehan oleh kawannya tersebut. Maklum, dibanding dengan Nail yang memiliki kepintaran, Tobi lebih lambat untuk memahami sesuatu.

Mereka berdua terus berjalan sambil memperhatikan ke sekeliling. Mereka terus berjalan hingga tak terasa waktu telah berlalu dengan begitu cepat.

“Aku tahu apa yang aneh di tempat ini!” Seru Nail tiba-tiba.

“Eh? Kau sudah menyadari sesuatu yang aneh itu?” Tanya Tobi heran sekaligus kagum.

“Tentu saja! Yang aneh di sini adalah pepohonan ini!” Jawab Nail sembari meletakan telapak tangannya pada salah satu batang pohon yang tumbuh berjajar di sisi jalan setapak.

“Apa maksudmu, Nail?”

“Pepohonan ini setiap 15 pohon sekali selalu sama, dan di pohon inilah yang merupakan awal tempat kita kembali lagi.”

“Aku masih belum mengerti maksudmu, Nail. Bisa kau jelaskan sekali lagi?”

“Jadi jelasnya kita terus berjalan di jalan yang sama dan tidak pernah sampai di tempat tujuan kita yaitu Time Village. Pohon ini yang menjadi bukti kalau kita selalu kembali ke jalan yang sama.”

“Benarkah? Tapi aku tidak merasakan apapun yang aneh yang keluar dari pepohonan ini.” Tanya Tobi meragukan pendapat Nail.

Nail tersenyum penuh percaya diri, lalu dia mengambil sebuah batu kerikil kecil. “Kalau begitu lihatlah ini dan nilai sendiri apa kata-kataku salah.” Nail melemparkan batu kerikil itu sekuat-kuatnya ke arah depan.

“Apa yang terjadi? Tak ada apa ,-“

BUK!

Kepala Tobi tiba-tiba dihantam oleh sebuah batu kerikil yang entah dari mana datangnya.

“Batu ini. . .”

“Ya, itu batu yang aku ,-“

“Ini pasti batu iblis! Dia melayang sendiri! Dia ,- “

DHUAK!

“Itu batu yang aku lempar tadi, bodoh!”

“Batu yang kau lemparkan? Tapi bagaimana bisa?”

“Sudah kubilang kan tadi? Kita selalu kembali ke jalan yang sama.”

Tobi berdiri sembari memegangi kepalanya yang sudah dua kali ‘dihantam’ oleh ‘sesuatu’. “Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Terus berjalan ke arah depan tanpa ragu.” Jawab Nail dengan begitu yakin.

“Terus berjalan? Bukannya kau yang bilang sendiri kalau kita akan terus berjalan ke arah yang sama?” Tanya Tobi bingung dengan keputusan Nail.

Nail terdiam sesaat lalu kembali berbicara, “Entahlah, tapi aku merasa kita pasti akan dapat keluar dari sini bila kita terus berjalan ke depan. Aku merasa kalau kita sudah menyadarinya, kita tak akan kembali ke jalan yang sama.” Jelas Nail seraya mulai melangkahkan kakinya kembali.

“Nail. . . Kau. . .”

“Sudahlah! Cepat ikuti aku! Kita harus segera pulang dan menanyakan buku itu kan?”

“Ya, tentu saja. Kita harus segera mengetahui buku apa sebenarnya ini.”

Mereka berdua akhirnya kembali melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda. Meski mereka tidak tahu apakah akan dapat keluar dari jalan membingungkan itu, tapi mereka tetap memutuskan untuk terus berjalan menembusnya.

Benar saja, setelah berjalan beberapa jauh mereka kemudian melihat gerbang masuk menuju ke desa mereka. Namun, entah kenapa mereka justru merasakan perasaan yang berbeda ketika mereka hendak tiba di desa.

“Akhirnya kita berhasil tiba di desa juga!” Teriak Tobi gembira.

“Ya, itu memang bagus, tapi sejak kapan ada tempat seperti gerbang di sini?” Tanya Nail ketika melihat sebuah gerbang besar yang tinggi menjulang di hadapan mereka.

“Hm? Gerbang? Apa maksud. . . mu?”

Tobi pun merasa heran dan kebingungan melihat gerbang tersebut. Dia juga merasa belum pernah melihat gerbang di hadapannya itu sebelumnya.

“Ah-hahaha, mungkin mereka membangunnya ketika kita pergi, Nail.”

“Mana mungkin bisa secepat itu kan? Lagipula ini justru terasa semakin aneh saja.”

“Sudahlah, sudahlah. Kita masuk saja ke dalam dan cari tahu apa yang terjadi.”

“Hh, kurasa memang sudah tidak ada cara lain lagi. Ayo masuk!”

***


Sementara itu, di sebuah tempat yang sangat jauh dari tempat dimana Tobi dan Nail berada. Di sebuah ruangan, terlihat tiga orang tengah berbicara. Salah seorang dari mereka adalah pemimpin di antara ketiga orang itu. Dia berbicara kepada dua orang lainnya yang mendengarkannya dengan serius.

“Jadi, seperti apa yang aku perkirakan sebelumnya, buku itu telah datang ke masa ini bersama dengan dua orang bocah ingusan yang membawanya.” Katanya dengan suara yang berat.

“Kita harus segera mendapatkan buku itu secepatnya dan tidak boleh membiarkan orang-orang dari organisasi pengganggu itu mencampuri urusan kali ini.” Lanjutnya.

“Siap, tuan!” Sahut kedua bawahannya.

“Aku ingin kalian berdua pergi mengambil buku itu dari tangan kedua bocah-bocah itu dan bawa buku itu kemari! Soal bocah-bocah itu, kalian bisa melenyapkan mereka atau kalian bisa melakukan apapun sesuka kalian.” Perintah sang tuan.

“Kami mengerti, tuan!” Sahut kedua orang itu lagi.

“Kalau begitu sekarang kalian boleh berangkat!”

“Siap! Kami laksanakan segera!”

Setelah itu, kedua orang itu pun pergi dari ruangan itu untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh sang tuan.

“Dengan begini rencanaku untuk mendapatkan The Future dan menguasai masa depan akan segera tercapai, hahahaha!” Tawanya jahat dengan begitu senang.

***


Tobi dan Nail memasuki gerbang masuk ke dalam desa mereka, dan di sana mereka menemukan banyak sekali kejanggalan. Mereka tak lagi mengenali bangunan-bangunan yang ada di sana, dan bahkan tak ada seorangpun yang mereka kenal di sana.

Suasana desa kini telah berubah hampir seperti sebuah kota, atau lebih tepatnya kota masa depan. Semua orang nampak telah akrab dengan alat-alat elektronik. Beberapa robot bahkan terlihat berseliweran di sana-sini dan orang-orang nampak sudah terbiasa dengan suasana seperti itu.

“Awaaas!” Seru sebuah suara memperingati Tobi dan Nail untuk menghindar.

Mereka segera bergerak menghindar dan mereka beruntung karena pengguna skateboard terbang tadi tak menabrak mereka. Seseorang yang tak akan pernah mereka temukan ketika sebelumnya mereka ada di desa.

“Kita nampaknya terlalu lama bermain.” Celetuk Tobi.

“Mana mungkin, kan!? Kita cuma beberapa jam saja di sana! Ini pasti ada yang aneh.” Komentar Nail.

“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” Kata Tobi bertanya pada Nail.

“Tidak ada cara lain, kita harus berpencar dan bertanya pada orang-orang. Kita nanti bertemu lagi di tempat ini, mengerti?” Jawab Nail mengusulkan sebuah ide.

“Yah, kalau begitu aku juga tidak punya pilihan lain. Ayo kita berpencar!” Sahut Tobi setuju.

Kedua orang sahabat ini pun kemudian berpencar serta bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi di desa mereka selama mereka pergi.

Selama bertanya, tidak ada satu pun orang yang mengenali mereka, bahkan tak ada satupun dari mereka yang mengenal orang yang mereka sebutkan. Semuanya bagaikan berada di waktu yang berbeda.

Akhirnya, mereka berdua kembali ke tempat mereka berjanji untuk berkumpul. Mereka kembali tanpa membawa hasil apapun kecuali kebingungan yang terus bertambah.

“Apa yang kau dapatkan, Tobi?” Tanya Nail.

“Aku tidak mendapatkan informasi apapun, mereka semua yang ada di sini terasa asing bagiku. Aku belum pernah bertemu dengan orang-orang yang ada di sini.” Tobi menjelaskan.

“Kalau begitu lebih baik kita tanya saja tentang rumah Mac Brief, siapa tahu saja ada orang yang masih mengenalinya, dia kan orang yang terkenal di desa.” Ujar Nail mengusulkan.

“Baiklah, ayo kita segera bertanya.” Sahut Tobi setuju.

Kedua remaja itu kemudian memberhentikan salah satu pejalan kaki yang melintas di dekat mereka, lalu mereka pun menanyainya.

“Maaf, apa kau tahu tentang Mac Brief? Atau paling tidak rumahnya?” Nail mencoba bertanya dengan sikap yang sopan.

“Apa maksud kalian bertanya seperti itu? Apa kalian ini orang luar ya?” Tanya orang itu balik.

“Ah, ya seperti itulah, kami baru saja pulang dari luar kota jadi terasa sangat asing dengan tempat ini.” Jelas Nail berbohong.

“Tapi kalian pasti sudah sangat lama tidak kemari, dan kalian pasti mendengar nama itu dari kedua orang tua atau bahkan kakek kalian kan?”

“Apa maksud orang ini, Na ,-“

Nail menahan Tobi untuk tidak ikut berbicara agar tidak mengacaukan pembicaraan, “Ya begitulah, memangnya kenapa anda bertanya begitu?”

“Ya jelas saja, Mac Brief sudah meninggal 50 tahun yang lalu, tapi mungkin rumahnya yang tua dan hampir ambruk itu masih ada.”

“Apa!? 50 tahun yang lalu. . .? Dia sudah meninggal. . .?” Seru Tobi dan Nail heran.

“Ya, sekarang sudah tahun 2XXX, jadi memang benar sekitar 50 tahun yang lalu.” Kata orang itu kembali mempertegas kata-katanya.

“Kalau begitu. . . Kita. . .”

“Sudah berpindah waktu. . .”

“Ke 50 tahun berikutnya!?”

“Ah, aku ada janji jadi tidak bisa lama-lama. Maaf hanya dapat memberitahu kalian segitu, sampai jumpa lagi.” Ucap orang itu sembari berlalu meninggalkan Tobi dan Nail yang masih dalam kondisi kebingungan yang amat sangat.

“Apa maksudnya dengan 50 tahun yang lalu itu, Nail?”

“Aku juga tidak tahu, semuanya terasa begitu aneh.”

“Lalu kita sekarang harus bagaimana? Apa yang mesti kita lakukan?” Tobi panik.

“Tenang, Tobi. Masih ada satu hal yang dapat kita lakukan.” Ujar Nail mencoba untuk tenang.

“Apa itu, Nail?”

“Mengunjungi rumah Mac Brief dan memastikannya dengan mata kepala kita sendiri.”

Setelah itu, kedua remaja itu pun memutuskan untuk pergi ke rumah Mac Brief sebagaimana tujuan awal mereka. Sekiranya kata-kata orang tadi benar, maka rumah Mac Brief pastilah tetap berada di tempat yang sama meski telah dalam kondisi yang berbeda.

Mereka berjalan menyusuri desa yang kini terlihat bagaikan kota raksasa dengan berbagai kecanggihan tekhnologi yang terlihat di sana-sini. Semua bangunan dan gedung yang mengepung kota sama sekali belum pernah mereka lihat. Desa mereka telah benar-benar berubah dalam sekejap mata.

Tidak lama kemudian, mereka tiba di tempat tujuan mereka. Sebuah rumah yang hampir roboh menanti di hadapan mereka berdua seolah berbicara mengundang mereka untuk masuk ke dalamnya.

“Apa kau yakin untuk masuk ke dalam sana?” Tanya Tobi masih ragu.

“Tentu saja! Selain ini tidak ada cara lain untuk mengetahui apa yang terjadi, kan?” Jawab Nail dengan yakin sambil melangkah terlebih dahulu meninggalkan Tobi yang masih tidak yakin akan tindakan mereka ini.

“Baiklah kalau begitu, aku juga akan masuk. Tunggu Nail!”

Tobi dan Nail memasuki rumah itu dengan langkah perlahan dan penuh dengan kehati-hatian karena kondisi rumah yang sudah sangat bobrok. Sedikit saja mereka membuat keributan, mungkin saja rumah itu akan segera roboh dan menimpa mereka.

Mereka berkeliling rumah itu dengan berpencar ke arah yang berbeda.

Tak banyak yang dapat mereka temukan di sana, hanya ada debu dan beberapa kayu reot yang telah berjatuhan ke tanah akibat umur. Selain itu, buku-buku bekas yang telah hancur pun menghiasi beberapa ruangan dalam rumah itu.

Sekian lama mencari, namun mereka tak kunjung menemukan sebuah petunjuk pun.

Ketika mereka hendak menyerah, Tobi tidak sengaja menabrak dinding dan seketika dinding rumah itu pun bergetar dengan cukup hebat.

Tobi dan Nail panik, mereka takut rumah itu akan segera roboh. Tetapi setelah beberapa saat, rumah itu kembali tenang, dan sepucuk surat yang entah darimana datangnya jatuh ke tanah akibat getaran hebat barusan.

“Surat apa itu?” Tobi bertanya sambil menunjuk surat yang tergeletak di lantai berdebu itu.

“Mungkin ini petunjuk yang kita cari sedari tadi!” Seru Nail senang. Dia kemudian segera berlari dan memungut surat itu dari tanah. Surat itu lalu dibukanya dan mulai dibacanya dengan suara yang cukup keras agar Tobi dapat mendengarnya.

“Untuk Tobi, dan Nail, kedua sobat kecilku yang sangat menyukai petualangan. Maafkan aku yang tidak bisa menjelaskan detail permasalahan yang kualami secara langsung, tapi hal ini tetaplah hal yang penting untuk disampaikan.”

“Kalian pasti tengah kebingungan karena telah berada di tempat yang berbeda dengan sebelumnya kan? Kalian boleh saja merasa begitu, tapi kalian tidak boleh panik. Di waktu di mana kalian berada sekarang, kalian harus melakukan suatu petualangan agar dapat kembali ke waktu sebelumnya.”

“Petualangan ini tentulah tidak mudah, kalian akan melewati berbagai bahaya dan kejadian tak terduga. Oleh karena itu, tetaplah kalian bersama-sama apapun yang akan terjadi nanti. Aku tak bisa menjelaskan lebih lanjut, tapi yang pasti aku tidak bisa membantu kalian karena di sana aku sudah tiada. Aku. . .”

Nail berhenti membaca surat itu. Dia menggerakkan kedua bola matanya dan melihat surat itu dengan lebih cermat, tapi nampaknya dia tidak bisa membaca lanjutan surat itu.

“Ada apa, Nail? Kenapa kau berhenti membacanya?”

“Aku tidak bisa mengetahui kelanjutan dari surat ini, tulisannya sudah tidak jelas lagi.”

“Eh? Tapi kenapa? Bukannya surat itu sangat penting untuk kita?”

“Bodoh! Surat ini dibuat 50 tahun lalu, jadi membaca bagian awal saja kita sudah beruntung! Lagipula dengan membacanya aku jadi mengerti satu hal. . .”

“Apa itu? Aku sama sekali tidak mengerti meskipun mendengarkanmu tadi.”

“Bodoh! Sudahlah, aku tidak akan berkomentar lagi tentang sifatmu itu. Yang aku mengerti dari surat ini adalah bahwa kita sekarang berada dalam suatu petualangan dengan kondisi aneh dimana petualangan ini mempertaruhkan nyawa kita agar kita bisa kembali ke waktu kita yang sebenarnya dengan selamat.”

“Ja-Jadi maksudmu kita memang tidak berada di waktu kita yang sebenarnya?”

“Ya. Kita sekarang ada di masa depan, dan itu semua berkat buku bernama The Future itu.”


***


“Jadi ini rumah pria tua yang dimaksud oleh Boss itu, hah!?”

“Jaga bicaramu, Black! Dia bukan pria tua, dia sudah lama meninggal.”

“Bagiku sama saja! Ayo kita segera serbu masuk dan temukan kedua bocah itu!”

“Bersabarlah sedikit! Jangan jadi orang yang suka terburu-buru.”

Dua orang berpakaian rapi namun berbeda warna berdiri di halaman depan rumah Mac Brief. Satu orang di antara mereka yang bicara tidak sabaran menggunakan pakaian setelan jas serba hitam, sementara satu orang lagi menggunakan setelan serba merah. Mereka mengetahui keberadaan Tobi dan Nail di dalam sana, dan nampaknya mereka mengincar kedua bocah itu.

Kedua orang itu kemudian memasuki rumah bobrok itu sembari memandang ke sekeliling mencari dua mangsa mereka yang berada entah di mana di dalam rumah itu.

Di tempat lain, Nail merasakan kedatangan kedua orang itu dan menyuruh Tobi untuk ikut dengannya bersembunyi.

“Kenapa kita bersembunyi, Nail?” Tanya Tobi bingung.

“Ada seseorang yang datang dan aku tidak tahu apakah mereka jahat atau tidak.” Jawab Nail setengah berbisik. Matanya terus mengawasi ke arah pintu masuk kalau-kalau ada seseorang masuk ke ruangan tempat mereka berada.

“Apa jangan-jangan mereka mengincar kita?” Tanya Tobi lagi ketakutan.

“Jangan berbicara bodoh di saat seperti ini!” Bentak Nail membuat Tobi diam.

Beberapa menit berlalu mereka menunggu, suara langkah kaki yang mendekat ke tempat mereka mulai menghilang. Orang yang berada di luar sana itu pasti sudah menyerah dan keluar dari rumah ini, begitulah pikir mereka.

“Apa sekarang sudah aman, Nail?”

“Aku rasa begitu, ayo keluar!”

“Baiklah! Aku di belakangmu.”

Kedua remaja itu keluar dari tempat persembunyian mereka dengan langkah yang hati-hati agar tak membuat keributan. Mereka kemudian menuju ke pintu keluar dan berniat untuk segera meninggalkan rumah itu. Namun. . .

“Kalian tertipu bocah-bocah kecil!” Seru orang berpakaian hitam yang dipanggil Black yang tiba-tiba muncul dari balik pintu keluar.

Tobi dan Nail terkejut dan berbalik badan mencoba untuk kabur, tapi dengan gerakan yang sangat cepat seseorang lainnya yang berpakaian merah mencegat jalan mereka. Kini mereka benar-benar sudah tidak bisa melarikan diri dari kepungan kedua orang itu.

“Kalian sudah tidak bisa melarikan diri, hahaha!”

“Lebih kalian menyerah saja kepada kami.”

Tobi dan Nail semakin terdesak. Mereka ingin mencoba untuk kabur namun apa daya mereka sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk melawan dua orang dewasa yang mencoba untuk menangkap mereka itu.

“Nail, boleh aku bertanya satu hal saja?”

“Apa yang kau ingin tanyakan di saat genting seperti ini?”

“Tidak, aku cuma ingin bertanya, apa ini akhir kita sebagai penyuka petualangan?”

“Bodoh! Tentu saja kita tidak akan berakhir di sini, kita pasti bisa keluar.”

“Tapi bagaimana caranya? Lawan kita dua orang dewasa yang badannya jauh lebih besar daripada kita berdua. Mana mungkin kita mengalahkan mereka!”

“Jangan berbicara aneh! Pasti ada jalan selama kita mempercayainya!”

“Sudah cukup berdiskusinya bocah-bocah kecil! Aku akan mengurus kalian!” Seru Black maju seperti hendak menerkam kedua orang mangsanya itu.

BOOF!

Sebuah bom asap meledak di hadapan keempat orang di ruangan itu dan menimbulkan kepulan asap yang sangat pekat.

“Ikutlah denganku, kalian ada untuk berada di pihak kami!”

Seseorang misterius muncul dan membawa Tobi dan Nail yang kehilangan kesadaran akibat pekatnya kepulan asap yang mereka hirup. Orang itu keluar dengan mendobrak dinding rumah yang sudah sangat tua. Dinding itu pun hancur dan mengakibatkan keseimbangan rumah bobrok itu terganggu sehingga rumah itu kembali bergetar dengan hebat.

BRUAAAAAK!

Rumah tua itu ambruk dan menimpa kedua orang yang masih tertinggal di dalamnya.

“Kurasa dengan ini dapat menghambat gerakan mereka berdua.” Orang misterius itu menoleh ke arah puing-puing rumah sekali lalu dia pergi dan menghilang dari tempat itu bersama Tobi dan Nail yang dibawanya.

“Sialaaaaan! Dia berhasil membawa mereka kabur!” Black muncul dari bawah reruntuhan rumah, kemudian baru si pria berpakaian merah menyusul keluar.

“Dia yang barusan. . . Tidak salah lagi, dia adalah orang yang berasal dari organisasi perdamaian dunia yang selalu mengganggu pergerakan organisasi kita.” Kata si pria merah.

“Ya, organisasi bernama Mos Lueva itu memang benar-benar menjengkelkan!”


TSUZUKU. . .

The Future - Page I -

Posted by : NAKAMORI KYORYUU
Date :Sabtu, 01 Oktober 2011
With 0komentar

Fu-Fam - Time V -

| Sabtu, 17 September 2011
Baca selengkapnya »
***


TIME V: THE GIRL THAT FALLS FROM THE SKY!


***


“Sebuah klub katamu!?” Seru kami bertiga ketika Makoto mengajukan ide anehnya.

“Yooo! Tepat sekali.” Sahutnya dengan serius.

“Tapi klub apa yang akan kau buat?” Tanyaku.

“Yooo! Mudah saja. Namanya adalah Sorami Club!” Jawabnya bersemangat.

“Haaah? Sorami Club?”

“Ya! Ini akan menjadi klub yang sangat hebat yang pernah ada di sekolah ini.” Tambahnya.

Kami bertiga pun akhirnya hanya dapat diam dan setuju saja mengenai ide Makoto ini. Alhasil, kami pun dipaksa masuk menjadi anggota oleh Makoto.

Namun, sebenarnya apa yang sedang kami bicarakan ini? Kalian semua pasti bertanya-tanya dalam hati.

Saat ini kami sedang membiacarakan masalah pembentukan sebuah klub yang diusulkan oleh Makoto. Entah alasan apa yang membuatnya berpikirin ingin mendirikan sebuah klub, namun yang pasti kali ini dia benar-benar serius bahkan dia pun telah menentukan namanya.

“Aku sih setuju saja selama Mi-chan ikut dengan kita.” Kata Lavina.

“Aku juga sependapat dengan Kowai-chan.” Sambung Aiko.

“Yoooo! Nah, bagaimana Mikan? Semuanya tergantung padamu.”

“Tapi Makoto, biarpun berkata begitu, bukannya mendirikan sebuah klub itu memerlukan kerjakeras dan kerjasama para anggotanya?”

“Yoooo! Ucapanmu memang benar, maka dari itu mari kita bekerjasama, dan untuk yang pertama mari kita cari penanggungjawab klub, mau kan?” Kata Makoto menawarkan tanpa peduli alasanku sebenarnya yang tidak ingin ikut klubnya.

“Penanggungjawab? Maksudmu seorang guru?”

“Yooo! Tentu saja! Seorang guru yang akan cocok dengan klub kita.”

“Memangnya ada calon yang kau usulkan?”

“Yooo! Tentu saja ada!”

“Biar kutebak, Yumi-sensei?” Ujar Lavina menerka.

“Yoooo! Tepat! Tepat! Tepat sekali, Lavina. Seperti biasa kau memang pintar.” Kata Makoto membenarkan.

“Eh? Tapi bukannya Yumi-sensei itu orangnya susah untuk diajak bekerjasama?” Protesku.

“Yoooo! Kau tidak usah cemas, Mikan. Menurut info yang kudapat, Yumi-sensei adalah orang yang tertarik pada petualangan, jadi tentu saja dia adalah orang yang paling tepat menjadi penanggungjawab klub kita nanti.” Jelas Makoto mematahkan ucapanku.

“Karena itu, sebenarnya klub apa yang akan kita dirikan?”

“Yoooo! Itu masih sangat rahasia, Mikan.”

“Heee. . . Jadi Yumi-sensei itu berjiwa petualang ya?” Gumam Aiko kagum.

“Ini bukannya saatnya memujinya kan!?” Omelku.

“Yoooo! Pokoknya begini. . .”

SREEEK!

“Minna-san! Aku sudah membawa minuman yang kalian minta.”

Mimi datang menghampiri kami membawa beberapa kaleng minuman yang kami pesan. Kemudian, satu persatu dari kami mengambil minuman itu, membukanya dan langsung meminumnya. Aku bahkan langsung meminumnya hingga habis tak bersisa.

“Yoooo! Jadi, ayo segera pergi temui Yumi-sensei!” Seru Makoto.

“Jadi diskusinya sudah selesai ya, Makoto-san?” Tanya Mimi yang baru saja datang dan tak tahu apa-apa.

“Yooo! Ah, maafkan kami, Mimi-chan karena tidak mengajakmu tadi, tapi memang sudah selesai kok. Kita sekarang akan ke ruang guru untuk menemui Yumi-sensei.” Jawab Makoto mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.

“Apanya yang sudah selesai? Kau bahkan belum menjelaskan klub seperti apa yang ingin kau buat!”

“Sudahlah, Mikan. Itu urusan nanti, karena yang penting kita segera menemui Yumi-sensei.”

“Jangan berbuat seenaknya saja seperti itu ,-“

“Sudahlah, Mi-chan, ayo ikut saja.”

“Iya, Mik-kun, ayo cepat ikut.”

“Tu-Tunggu! Apa yang kalian lakukaaan!?”

Aiko dan Lavina menyeret kedua lenganku sehingga terpaksa aku mengikuti mereka menuju ke ruang guru. Sementara itu, Mimi hanya terlihat tersenyum kecil melihatku diperlakukan seperti itu.

SREK!

“YUMI-SENSEEEEEI!” Teriak Lavina memanggil Yumi-sensei ketika kami baru tiba di ruang guru.

Semua mata guru yang lain tertuju ke arah kami, dan lagi mata mereka menatap dengan pandangan kesal. Satu di antara para guru itu kemudian berdiri dan menatap kami dengan tatapan yang seram.

“DILARANG BERTERIAAAAK!” Balas guru itu berteriak ke arah kami.

Setelah itu, kami berpindah tempat karena takut mengganggu guru-guru yang lain. Kami pun kemudian memilih sebuah kelas yang sudah kosong. Di sana kami memulai perbincangan kami mengenai pembentukan klub dengan Yumi-sensei.

“Jadi kalian ingin membentuk sebuah klub dan ingin aku jadi penanggungjawabnya?”

“Yooo! Tepat sekali, sensei! Kami membutuhkan bantuan anda.”

“Lalu, memangnya klub seperti apa yang ingin kalian dirikan?”

“Yooo! Nama klubnya adalah Sorami! Kepanjangannya adalah Sora Miteru (Look to the Sky), dan tentu saja sesuai dengan namanya, kegiatannya adalah Skywatcher alias mengamati seluruh isi langit biru yang dihiasi oleh awan-awan putih, atau langit malam yang dihiasi dengan bintang.” Jelas Makoto dengan detail.

“Yooo! Jadi, anda ada ketertarikan, sensei?”

“Ide yang cukup menarik, aku ikut.” Kata Yumi-sensei menyetujui pembentukan klub.

“Jadi itu klub yang akan didirikan.” Gumamku.

“Ide yang bagus kan, Mik-kun? Dengan begitu kita bisa jadi lebih dekat.” Kata Aiko.

“Eh, i-iya, sepertinya klub ini bukan ide yang buruk juga.”

“Yooo! Dan untuk yang menjadi penyumbang alat-alat untuk melakukan Skywatch adalah. . . Mimi Kyoretsu!” Seru Makoto menunjuk Mimi.

“Tu-Tunggu! Apa maksudnya semua itu, Mimi-chan?” Tanyaku berusaha memprotes.

“Kenapa memangnya, Mikan-kun? Bukannya mengamati langit itu kegiatan yang sangat indah?” Tanya Mimi balik membuatku tidak bisa berkata lagi untuk membalasnya. Akhirnya aku pun hanya bisa menerima saja karena memang mereka yang mengusulkannya, bukan aku.

“Yah kalau begitu, terserah kau saja sih, Mimi-chan.” Ujarku mengalah.

“Yooo! Bagus! Kalau begitu dengan begini Mikan pun sudah setuju. Sorami Club dengan ini resmi didirikan!” Seru Makoto meresmikan pembentukan klub kami.


***


“Haaah. . . Akan jadi klub seperti apa kira-kira klub kami nantinya?” Gumamku sambil mendesah panjang.

Aku terdiam di kamarku melamunkan apa yang akan kami kerjakan di klub yang baru saja dibentuk beberapa jam yang lalu. Namun, semakin kupikirkan, yang dapat kudapatkan hanyalah desahan panjang yang berkali-kali keluar dari mulutku.

“Daripada itu, aku lebih menyegarkan otakku dengan minuman dingin.”

Kulangkahkan kakiku menuruni tangga menuju ke dapur untuk mengambil minuman dingin. Tapi, baru saja aku memasuki dapur, aku dikagetkan oleh kehadiran seorang gadis yang tengah mengutak-atik alat dapur.

Gadis itu menyadari kedatanganku dan menoleh ke arahku. Kami pun saling berpandangan tanpa melontarkan sepatah kata pun selama beberapa saat.

“Mi-chan, kalau kau ada di sana sebaiknya bilang, kau mengagetkanku saja.” Kata gadis itu lebih dulu.

“Itu seharusnya yang kukatakan kan, Lavina! Lagipula kenapa kau ada di rumahku?” Balasku bertanya pada Lavina.

“Kau kejam sekali, MI-chan. Aku kan sudah hampir tiap hari datang kemari untuk belajar memasak bersama dengan Hikari-chan. Apa kau masih tidak menyadarinya?”

“Jadi tawaran Hikari waktu itu ternyata memang serius ya?”

“Tentu saja! Aku berusaha sangat keras untuk bisa memasak seperti dia!”

“Kau memang benar-benar bersemangat ya, Lavina.”

“Tentu saja! Kau sendiri, apa ada perkembangan dengan Ryuu-chan?”

DEG!

Pertanyaan Lavina menusuk ke dalam dadaku.

Aku benar-benar hampir melupakan tujuan awalku. Memang benar, kalau dipikir-pikir aku belakangan ini tidak terlalu memikirkan tentang anak itu. Apalagi setelah peristiwa kedatangan Yukio waktu itu. Akibat pertanyaan dari Lavina, aku kembali terpikir tentang orang yang kusukai itu.

“Kau belum ada kemajuan kan?” Tanyaku Lavina lagi setengah mengejek.

“Seenaknya saja! Tentu saja aku ada kemajuan.” Jawabku menyombong.

“Oh ya? Memang apa buktinya kalau kau ada kemajuan?”

“Dia. . . Dia. . . Itu. . . Ah! Aku tak bisa mengatakannya!”

“Sudah kuduga, tidak ada kemajuan, haaaah. . .”

“Apa maksudmu dengan desahan itu? Kau meremehkanku ya?”

PLUK!

Lavina menaruh kedua tangannya di pundakku dan menatapku lekat. Wajahnya didekatkan padaku hingga hampir menempel ke wajahku. Hatiku dibuat tidak karuan oleh sikapnya yang aneh itu.

“Dengarkan aku, Mi-chan.” Katanya pelan.

“Sekalipun Ryuu-chan tidak bisa menemanimu, masih ada orang-orang sepertiku atau Ribbon-chan untuk mendukungmu di saat kau memerlukan kami, jadi jangan takut karena kau tidak akan sendirian.” Lanjutnya diakhiri dengan senyuman kecil.

Aku segera mendorongnya dengan cukup keras, dan dia pun melepaskanku.

“A-A-A-Apa yang kau katakan, Lavina? Aku sendiri saja sudah cukup, ka-kalian tidak perlu membantuku.”

“Kau benar-benar orang yang tidak bisa jujur terhadap diri sendiri. Suatu saat kau pasti akan butuh bantuan kami, aku jamin.” Ujar Lavina dengan begitu yakin.

“Da-Darimana kau tahu kalau aku akan membutuhkan bantuan kalian semua?”

“Aku juga tidak begitu mengerti, tapi mungkin ini yang disebut dengan perasaan wanita.”

Setelah mengatakan itu, Lavina bergegas kembali ke tempatnya dan memulai kembali latihan memasaknya. Sementara itu, aku terdiam menyerapi ucapan Lavina.

“Aku. . . Sendirian. . . Tidak bisa?” Gumamku pada diri sendiri.

Kutatap Lavina yang tengah serius dengan berbagai peralatan dan bahan masak yang telah dipersiapkannya. Dengan memandanginya saja, entah kenapa aku bisa merasakan semangatnya mengalir ke dalam diriku.

Aku pun bertanya kepada diriku sendiri, “Apakah ini yang disebut ‘sikap positif seseorang akan mengalir kepada orang disekitarnya’?”

Entahlah, aku tidak begitu mengerti dengan hal yang bersifat terlalu puitis atau teoritis.

“Aku akan keluar dulu, lanjutkan perjuanganmu Lavina.” Kataku sembari mengambil sebotol minuman dingin dari lemari es.

“Hm! Ganbarimasu yo!” Sahutnya bersemangat.

Setelah itu, aku berjalan keluar ke arah beranda samping. Kubuka jendela di sana, dan kutemukan Mimi ternyata ada di sana duduk di ujung beranda. Dia mengacungkan kakinya dan menggerak-gerakannya sambil bersenandung pelan.

“Mimi-chan, kau haus?” Tanyaku.

Mimi menoleh ke arahku, “Hm! Aku sedikit merasa haus.” Jawabnya.

“Kalau begitu tangkap ini!” Kataku seraya melemparkan botol minuman di tanganku ke arahnya.

“Terima kasih, Ojii-chan.” Ucapnya sambil menangkap botol minuman dariku, kemudian dia pun meminum isinya.

Aku segera mengambil posisi di sebelah Mimi dan duduk dengan santai.

“Ne, Mimi-chan, apa yang kau lakukan?”

“Aku cuma memandang langit.”

“Hm? Jangan-jangan kau mensponsori klub kita juga karena itu?”

“Ya, mungkin saja, soalnya aku memang suka dengan langit, apalagi langit biru. Warnanya dapat membuatku merasa tenang bila memandangnya.” Jelas Mimi.

“Yappari sou da, tapi ngomong-ngomong soal langit aku jadi teringat saat pertama kau tiba di masa ini.” Kataku terkenang kembali pertemuan pertamaku dengan Mimi.

“Sejak saat itu sudah banyak yang kita lewati, ya kan, Ojii-chan?”

“Ah, tak terasa waktu cepat sekali berlalu sejak saat itu.”

“Hm, benar-benar tidak terasa begitu cepatnya waktu bergulir.”

“Ne, Mimi-chan, jadi apa kau akan kembali ke masa depan suatu hari nanti?” Tanyaku membuat Mimi terdiam.

“Mungkin.” Jawabnya singkat.

Ya, hanya jawaban itulah yang keluar dari mulutnya, jawaban yang sebenarnya tidak memberikan jawaban dari pertanyaan yang kuajukan.

Aku menatap Mimi secara seksama. Dia bagaikan seorang gadis biasa di hadapanku, dan mungkin di hadapan orang lain juga. Namun, di balik semua itu dia mungkin hanya seorang gadis kesepian yang terpisahkan oleh jarak dan waktu dengan semua orang yang dikenalnya.

Saat itu aku langsung terpikir, apakah semua yang dikatakan Reika-san adalah sesuatu yang benar? Entahlah, aku masih belum tahu tentang semua itu, dan mungkin aku memang tidak ingin mengetahuinya.

Bagiku, melihat senyuman Mimi dan bersamanya setiap hari membuatku merasakan bahwa suatu saat nanti aku akan memiliki masa depan yang cerah, hanya itu saja.


***


Hari ini adalah hari pertama klub kami beraktifitas. Bersama dengan penanggungjawab klub, Yumi-sensei, kami mengadakan suatu pengamatan terhadap keadaan langit siang hari ini. Tentu saja, semua alat pengamatan ini merupakan sumbangan dari ini, walaupun sebenarnya aku tidak terlalu yakin apa akan aman dan berhasil mengingat berbagai kejadian aneh selalu menghampiriku bila menggunakan alat-alat dari Mimi.

“Yoooo! Ini hebat sekali, Mimi-chan!” Puji Makoto kagum melihat alat-alat yang dibawa oleh Mimi.

“Mimi-san memang hebat, kau selalu persiapan dengan berbagai hal.” Ujar Aiko menambahkan.

“Mimi, pasti kau dari keluarga seorang ilmuwan ya? Kau punya banyak alat seperti ini.” Tanya Lavina penasaran ketika memasang alat-alat untuk pengamatan.

“Yaaa. . . Seperti itulah, keluargaku memang hampir semuanya adalah ilmuwan, jadi aku sering diijinkan bermain-main dengan alat buatan mereka, terutama yang gagal.” Jelas Mimi ikut membantu.

“Pantas saja, alat gagal ya?” Celetukku karena tidak tahan.

“Kau mengatakan sesuatu, Mikan-kun?”

“Ah tidak kok, aku tidak mengatakan apapun, Mimi-chan.”

“Kalau kau tidak sedang sibuk segera bantu yang laiiin!” Teriak Yumi-sensei dari belakang memerintahku.

“Ha-Hai, Sensei!”

Aku lantas bergegas membantu teman-temanku memasang alat-alat sesuai dengan bagiannya masing-masing. Dan akhirnya, tidak lama kemudian kami pun berhasil menyelesaikannya. Sebuah teleskop hasil sumbangan Mimi berhasil kami dirikan di bukit dekat sekolah ini.

“Haaaah, akhirnya selesai juga.” Ujarku.

“Benar, akhirnya selesai. Ini benar-benar melelahkan.” Sambung Lavina.

“Kalian mau minum sesuatu? Aku kebetulan sudah membawakannya.” Ujar Mimi menawarkan.

“Yooo! Mimi-chan memang selalu persiapan, kalau begitu aku mau sekaleng cola dingin!”

“Aku mungkin jus saja, Mimi-san.”

“Aku samakan saja dengan Ribbon-chan, Mimi!”

“Aku. . . Bir! Tolong ya, Kyoretsu-san.”

“Hai, sensei! Lalu, Mikan-kun?” Tanya Mimi kepadaku.

“Aku. . . Terserah saja.” Jawabku karena tidak ada yang terlalu kuinginkan.

“Kalau begitu tunggu, akan aku ambilkan.” Kata Mimi seraya pergi ke tempat penyimpanan minuman.

Selepas Mimi pergi, Makoto yang tidak sabaran langsung mencoba teleskop yang baru saja kami buat.

Awalnya dia terlihat biasa saja karena tidak menemukan sesuatu yang luar biasa. Namun, beberapa saat kemudian wajahnya terlihat antara terkejut dan senang. Kelihatannya dia mendapatkan sesuatu yang diluar perkirannya.

“Yooo! Uwoooo! Lihat kesini! Ada sesuatu yang jatuh!” Serunya bersemangat.

“Eh, benarkah? Perlihatkan padaku.” Kata Aiko penasaran.

“Perlihatkan padaku juga.” Lavina pun tak kalah penasarannya.

Setelah mereka berdua bergantian melihat, mereka pun menampakkan raut wajah yang sama dengan Makoto barusan. Mereka terlihat begitu tertarik dengan apa yang mereka lihat melalui teleskop itu. Yah, jadi apa boleh buat, rasanya aku pun mulai tertarik.

“Memangnya apa yang kalian lihat sih?”

“Lihat saja sendiri, Mi-chan! Kau pasti akan kagum!”

“Hm! Kau pasti akan kagum, Mik-kun.”

“Jangan mengulangi kata-kataku, Ribbon-chan!” Kata Lavina memandang Aiko dengan tatapan tak menyenangkan.

“Siapa yang mengulangi kata-katamu, hah!? Jangan terlalu berharap!” Balas Aiko dengan melemparkan pandangan yang tak kalah tajamnya.

“Yoooo! Seperti biasa kalian memang sangat akrab! Hahaha!” Komentar Makoto.

“Siapa yang akrab, haaah!?” Bentak mereka bersamaan.

“Diamlah! Aku jadi tidak bisa konsentrasi melihat objeknya.”

“Ba-baik, Mi-chan.”

“Maafkan aku, Mik-kun.”

Setelah mereka berdua diam, aku memfokuskan mataku pada lensa teleskop untuk menangkap objek yang mereka maksud tadi.

Beberapa saat aku memandang ke arah langit lewat teleskop, tapi tidak ada satupun objek yang aku dapatkan. Ketika aku hampir saja menarik mataku dari sana, sebuah objek tiba-tiba muncul di hadapanku.

Objek itu semakin mendekat ke arahku dan terlihat semakin besar. Dia terbang dengan kecepatan tinggi dan nampaknya akan jatuh tepat di tempat kami berada ini.

“Tunggu! Itu kan. . .”


***


“Reika-san, sudah saatnya kau berpatroli di sekitar kota kan?”

“Eeeh? Padahal aku ingin menikmati susu segar dan menonton drama komedi favoritku. . .”

“Dame! Kau harus segera berpatroli, kau itu ,-“

PIP! PIP! PIP!

“Ada apa, Hakase?” Tanya Reika sambil menggenggam botol susu di tangannya.

Hakase menatap ke layar monitor besar di hadapannya, lalu dia terlihat menampakkan ekspresi wajah yang berbeda. Dia terlihat seperti orang yang terkejut bercampur dengan cemas.

“Ini. . . Objek yang tidak diketahui.” Jawabnya singkat.

GLEK!

“Ah! Apakah ini berbahaya?” Tanya Reika lagi setelah menengguk susu di botol yang digenggamnya.

“Kalau kau mau bertanya seperti itu paling tidak harus serius kan? Jangan bertanya setelah menengguk sebotol susu, itu tidak keren!” Omel Hakase.

“Ma-Maaf, Hakase. Kalau begitu aku bertanya sekali lagi, apa ini berbahaya?”

“Aku masih belum tahu. Yang pasti objek ini akan jatuh di bukit dekat sekolah Mikan dan Mimi berada. . .” Hakase diam tak menyelesaikan kata-katanya.

“Ada apa lagi? Kau masih punya lanjutannya kan?” Tanya Reika lebih penasaran.

“Objek ini berbentuk manusia dan dia akan jatuh tepat, sekarang!”


***


“Tu-Tunggu! Dia mengarah ke arah kita!”

“Apa!? Apa maksudmu, Mi-chan?” Tanya Lavina.

“Makhluk itu terbang mengarah kesini!” Jawabku panik.

“Kau tidak bercanda kan, Kyoretsu-kun?” Tanya Yumi-sensei ikut panik.

“Tentu saja! Lagipula makhluk itu. . .”

“Yooo! Makhluk itu memangnya kenapa?”

“Dia sudah sangat dekaaaaat!” Seruku.

Sesosok manusia dengan sayap mekaniknya terbang menghampiri kami dengan kecepatan tinggi.

“Mik-kun tidak berbohong, dia benar-benar kemari!” Seru Aiko menunjuk sosok itu.

Sosok itu semakin mendekati kami sehingga kami dapat merasakan tekanan angin yang menerpa tubuh kami.

BUUUUZ!

Sosok itu terbang melewati kami dan memberikan tekanan angin yang luar biasa ke arah kami. Beberapa dari kami segera terbanting ke permukaan tanah akibatnya, termasuk diriku sendiri.

JDUUUM!

Selang beberapa detik kemudian, suara keras akibat hantaman antara sosok itu dengan permukaan tanah menggema di bukit tempat kami berada ini.

“Yooo! Makhluk apa itu sebenarnya?” Tanya Makoto memandang ke arah jatuhnya makhluk misterius itu.

Di sana, kini terdapat sebuah lubang yang sangat besar akibat benturan kecepatan tinggi tadi. Di tengah lubang tersebut, kami dapat melihat makhluk itu telah kembali berdiri dari kecelakaan yang baru saja dialaminya.

Makhluk itu menatap kami dengan tatapan matanya yang berwarna merah terang, tapi beberapa saat kemudian langsung berubah menjadi hijau dan akhirnya berubah kembali seperti layaknya warna mata manusia pada umumnya.

“Yoooo! Di-Di-Di-Dia. . .”

“Ya, sudah kubilang kan dari tadi kalau dia. . . seorang gadis.”

“Yooo! Kau tidak bilang apa-apa tadi!”

“Ah, benarkah? Kalau begitu maaf karena aku tidak menyelesaikan kata-kataku.”

“Yoooo! Kau ini ,-“

Ketika aku dan Makoto tengah meributkan tentang identitas sang sosok misterius yang ternyata seorang gadis itu, sosok itu justru telah berada di hadapan kami semua.

“Apa yang akan kau lakukan pada kami. . .?” Tanyaku pada sosok itu sembari menelan ludah.

Mimi yang baru kembali dari mengambil minuman untuk kami semua nampak heran dengan kedatangan sosok di depannya, tapi dia tidak terlihat begitu terkejut seperti kebanyakan dari kami.

“Waaah! Ternyata ada anggota klub yang baru yaaa?” Tanyanya polos.

“Sudah jelas-jelas bukan kaaaan!?” Seruku mengomentari pertanyaannya.

“Benarkah? Lalu dia ini siapa?”

Sosok di depanku ini nampak tidak begitu menghiraukan kehadiran Mimi. Dia menaruh telapak tangannya di dahiku, dan matanya kembali menyala berwarna hijau.

“Mikan Kyoretsu, abad 21, generasi pertama.” Ucapnya.

Semuanya terdiam dalam keterkejutan mendengar ucapannya.

“Da-Darimana kau tahu namaku?”

“Aku adalah Nitenoid alias Ningen Tenshi Android (Human Angel Android), tipe Falcon.”

“Falcon? Lalu untuk apa kau datang kemari?”

“Aku hanya kehabisan tenaga, aku tidak punya niat untuk menyakiti kalian.”

Saat mengatakan hal itu entah kenapa wajahnya terlihat begitu sedih. Dia terlihat seperti seseorang yang menyembunyikan suatu kesedihan di dalam hatinya.

Yah, apa boleh buat kalau begitu, nampaknya kekacauan memang cocok denganku. Aku akan bertanggungjawab karena telah melihat wajah bersedihnya itu.

“Jangan terlalu percaya padanya, Mikan-kun!” Teriak Mimi.

“Benar, Mi-chan! Kita masih belum bisa percaya padanya!” Sambung Lavina.

“Biar aku segel dia dulu untuk mengetesnya!” Usul Aiko.

Aku segera merentangkan tangan kananku untuk menghentikan mereka semua.

“Aku percaya padamu.” Ucapku kepadanya.

“Terima kasih.” Sahutnya.

Suasana pun kembali menjadi tenang dan semua ketegangan pun segera hilang. Mereka semua memang awalnya masih menaruh curiga, namun mereka juga tidak punya pilihan lain selain percaya padaku yang telah mempercayai Falcon.

“Yoooo! Kalau begitu, Falcon-chan, kau mau ikut makan siang bersama kami?” Ajak Makoto.

“Makan siang?” Tanya Falcon sambil memiringkan kepalanya.

“Yooo! Ya, makan siang. Kau pasti lapar kan karena sehabis terbang tadi? Hahaha.” Canda Makoto.

BUK!

“Leluconmu itu sama sekali tidak lucu!” Bentak Yumi-sensei memukul kepala Makoto.

“Hahahahahaha!”

Kami semua yang ada di sana menyambut kejadian itu dengan tawa keras nan lepas kecuali Falcon. Dibandingkan dengan orang yang tidak punya rasa humor, Falcon lebih bisa disebut sebagai orang yang tidak tahu caranya tertawa. Mungkin, ekspresi sedih tadi hanyalah satu-satunya ekspresi yang dia miliki, begitu pikirku.

Akhirnya kami semua pun menikmati makan siang setelah melakukan pengamatan dan kedatangan Falcon. Sinar matahari yang cukup terik tak mengganggu kami melahap bekal makan siang yang telah kami persiapkan.

Semuanya nampak bersenang-senang seperti biasa, tapi kembali kulihat Falcon dalam ekspresi sedihnya. Aku ingin sekali menanyakan alasannya, tapi entah kenapa lidahku masih beku saat ini.

Setelah saat makan siang berakhir, kami pun bersiap-siap untuk segera mengakhiri kegiatan klub kami hari ini.

“Tu-Tunggu! Kenapa aku yang harus membawa Falcon?” Protesku.

“Yooo! Karena kau yang bilang kalau kau percaya padanya.” Jawab Makoto santai.

“Tapi bukankah kalian juga percaya padanya?”

“Bukannya begitu, tapi. . .”

“Aaaah! Sudahlah! Baik, baik! Aku dan Mimi yang akan membawanya.”

“Terima kasih, Mik-kun. Kami pasti merepotkamu.”

“Jaga dia baik-baik ya, Kyoretsu-kun, Kyoretsu-san.” Kata Yumi-sensei menepuk pundakku pelan.

“Ah! Aku akan menjaganya baik-baik.” Jawabku malas.

“Aku sudah selesai dengan membereskan peralatannya!” Seru Mimi kemudian.

Kami bertujuh pun kemudian turun dari bukit, dan tepat di persimpangan pertama kami semua pun berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing.

“Kalau begitu, kita berpisah disini, sampai jumpa semuanya!” Ucap Lavina sembari melambaikan tangan dan pergi dari hadapan kami.

“Aku juga, sampai jumpa Mik-kun, semuanya!” Sambung Aiko.

“Aku juga, sampai nanti!”

“Yooo! Aku juga, sampai jumpa kalian bertiga!”

“Sampai jumpa juga semuanya!” Ucapku seraya melambaikan tangan kepada mereka.

“Sekarang bagaimana, Ojii-chan?” Tanya Mimi.

“Apanya yang bagaimana?” Tanyaku balik.

“Maksudku soal gadis bernama Falcon ini.”

“Dia juga dari masa depan, kan? Apa kau tidak tahu sesuatu tentangnya?”

“Soal Nitenoid aku tidak begitu tahu, tapi di masa depan mereka dijadikan alat militer.” Jawab Mimi sambil berbisik pelan.

“Apaaaa!?” Tanyaku terkejut dengan jawaban Mimi.

“Itulah makanya kenapa tadi aku tidak mau percaya kepadanya.”

“Ja-Jadi dia memang bisa saja datang untuk membunuh kita ya? Tapi ah, itu tidak mungkin kan? Lihat, dia itu benar-benar pendiam dan nampak tidak berbahaya.”

DOOM!

Sebuah ledakan terjadi tepat di hadapan kami, dan angin ledakannya menerpa wajah kami. Aku terdiam selama beberapa saat akibat ledakan itu.

“Lihat kan? Dia sama sekali tidak berbahaya? Ha-Ha-Ha. . . Hahaha!”

“O-Ojii-chan. . .”

“Memangnya siapa yang mau bilang begitu!? Falcon, apa yang kau lakukaaaan!?” Tanyaku menoleh ke arahnya.

“Aku membunuh lalat yang akan menyentuhmu.” Jawabnya tanpa ekspresi.

“Ah, kalau begitu terima kasih. Bukaaaaan! Maksudku kalau mau membunuh lalat jangan pakai cara berlebihan seperti itu! Aaaah entahlah aku tidak mengerti apa yang kukatakan!” Kataku dengan pikiran yang mulai kacau.

“Ojii-chan, kau tidak apa-apa kan?” Tanya Mimi cemas.

“Tenang saja, Mimi-chan. Aku sama sekali tidak apa-apa, yang penting sebelum kita pulang, kita harus ke tempat itu dulu.” Jawabku sambil menahan emosi.

“Tempat itu?”

“Ya, rumah Hakase.”


***


“Jadi. . . Ini ya objek terbang misterius tadi?” Tanya Hakase sembari memegangi keningnya.

Ya, singkat cerita kami telah berada di rumah Hakase tepatnya di ruang kerjanya. Kami pun membawa Falcon turut serta karena dialah yang ingin aku tanyakan kepada Hakase dan juga Reika-san.

“Heee. . . Nitenoid ya? Sudah lama aku tidak melihatnya.” Gumam Reika-san.

“Kau. . . Nekonoid alias Neko no Android (Cat Android) tipe Lyra.” Ucap Falcon mengenali Reika-san.

“Heee. . . Ternyata aku juga ada di databasemu ya? Tapi, jangan panggil aku dengan nama itu, aku sudah lama membuang nama itu, panggil saja aku Reika.”

“Kalau begitu salam kenal, Reika-san.”

“Kau ini, masih belum mempunyai ekspresi ya?”

Sementara Reika-san dan Falcon berbincang-bincang, aku pun harus mengetahui beberapa info mengenai satu lagi makhluk dari masa depan itu.

“Jadi dia itu makhluk apa sebenarnya, Hakase?”

“Dia Nitenoid, Ningen Tenshi Android, diciptakan untuk pihak militer. Dia terbuat dari sebagian tubuh manusia asli dan lainnya telah dimodifikasi dengan mesin tingkat tinggi, kalau melihat dari minimnya ekspresi yang dimilikinya sepertinya dia masah prototype.” Jelas Hakase.

“Prototipe robot perang?”

“Ya, kurang lebih seperti itu. Kehidupannya tidak pernah baik, tidak pernah mengenal teman, yang ada hanyalah majikan dan musuh, dan seluruh hidupnya didedikasikan untuk perang.” Tambah Hakase.

“Hidup yang benar-benar menyedihkan.” Celetukku pelan.

Aku seketika itu langsung mengerti kenapa dia selalu menampakkan ekpresi sedih. Kehidupan yang hanya dihabiskan untuk melukai orang lain pasti sangat berat baginya. Tidak ada salah ataupun benar, yang ada hanyalah menang atau kalah, mati atau hidup dan merdeka.

“Kalau begitu kami permisi dulu untuk pulang.” Ucapku berpamitan.

“Secepat itu kau segera pulang?” Tanya Hakase.

“Ya! Sebenarnya aku juga harus membuat alasan bagus untuk membawa pulang Falcon ke rumah karena Hikari pasti akan memarahiku.” Jelasku.

“Ah, aku mengerti dengan Hikari-chan yang seperti itu.”

“Kalau begitu kami pulang dulu, terima kasih sebelumnya.”

“Tunggu, Mikan-kun! Aku ada perlu denganmu sebelum kau pulang.” Cegah Reika-san.

“Perlu denganku? Baiklah. Kalau begitu, Mimi-chan, bawa Falcon keluar lebih dulu.” Kataku meminta Mimi pergi lebih dahulu.

“Ya, aku mengerti, Mikan-kun. Ayo, Falcon.” Sahut Mimi seraya membawa Falcon pergi dari ruangan.

“Jadi apa yang ingin kalian bicarakan denganku?” Tanyaku setelah Mimi dan Falcon pergi.


***


Selesai dengan urusanku bersama Hakase dan Reika-san, aku beserta Mimi dan Falcon segera melangkah ke seberang menuju ke rumah. Namun, ketika baru saja memasuki halaman, kuhentikan langkah kakiku dan menatap pintu rumah dengan ragu.

“Kenapa, Mikan-kun?” Tanya Mimi yang menangkap raut wajah raguku.

“Ah tidak Mimi-chan, aku cuma bingung saja.” Jawabku.

“Bingung? Kenapa harus bingung? Kita hanya perlu masuk dan menjelaskan pada Hikari-chan bahwa kita membawa Falcon kesini untuk tinggal bersama dengan kita untuk sementara waktu.” Kata Mimi dengan enteng.

“Justru di situlah masalahnya! Kau ingat kan ketika pertama kali kau datang kemari?”

“Ah! Tentu saja, Hikari-chan benar-benar sangat marah.”

“Karena itulah, bagaimana aku harus menjelaskannya!?”

“Ehem! Menjelaskan apa maksudmu?”

“Tentu saja menjelaskan tentang aku yang tiba-tiba datang membawa seorang gadis lagi ke rumah, memangnya apa lagi!?” Jelasku.

“Mikan-kun. . . sssst!” Mimi menyuruhku untuk diam dengan isyarat jari telunjuk di depan bibirnya.

“Apa maksudmu, Mimi-chan!? Kau kan yang bertanya padaku? Kenapa sekarang kau menyuruhku untuk diam!?” Tanyaku aneh dengan sikap Mimi tersebut.

Mimi tidak menjawab pertanyaanku dan hanya mengacungkan jari telunjuknya ke arahku. Aku awalnya hendak marah, tapi sesaat kemudian aku sadar bahwa dia tidak sedang menunjukku melainkan menunjuk seseorang yang kini telah ada di belakangku. Dan tentu saja itu bukanlah Falcon.

“Hi-Hi-Hi-Hikari! Ke-Kenapa kau sudah pulang?”

Hikari ternyata telah berada di belakangku sambil berkacak pinggang dan menatapku dengan pandangan curiga bercampur kesal.

“KAU. . . Kau berani membawa pulang gadis lagi, hah!?”

Hikari berteriak memarahiku dengan suara yang sangat keras, bahkan mungkin terdengar hingga ke rumah tetangga sebelah.

“Bu-Bukan begitu, sebenarnya ini ide Makoto dan anggota klub yang lain, aku cuma. . . cuma. . .”

“Cuma apa!? Kau sudah benar-benar mengecewakanku, dasar pemalas!”

Hikari berjalan melewatiku dengan wajah yang benar-benar marah.

Aku segera menangkap lengannya dan berusaha meminta maaf, tapi dia sepertinya tidak mau mendengarkanku.

“Hikari, kumohon, ijinkanlah Falcon tinggal di sini untuk sementara waktu.” Kataku memohon.

“Lakukan sesukamu, tapi pertama lepaskan tanganmu dulu!” Jawab Hikari dengan dingin.

Kulepas genggamanku dari lengannya, lalu dia dengan serta merta berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan kami lagi.

“Hikari Kyoretsu, saudara dari Mikan Kyoretsu.” Ucap Falcon tiba-tiba mengejutkan kami.

Hikari yang baru saja memasuki pintu depan menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang.

“Kenapa dia tahu namaku?”

Falcon berjalan menghampiri Hikari dan berhenti tepat di hadapannya.

“Aku datang dari masa depan, jadi aku tahu segalanya terutama tentang kalian.” Jelas Falcon.

“Masa depan. . . Lagi!? Sudah aku tidak peduli!”

Hikari kembali berbalik arah dan masuk ke dalam rumah meninggalkan kami bertiga.

“Ne, Ne, Ne! Kalau begitu kau tahu tentangku juga?” Tanya Mimi penasaran.

“Kita ada di masa yang sama, jadi aku belum tahu banyak tentangmu.” Jawab Falcon mengecewakan perasaan Mimi.

“Sudahlah! Lebih baik kita segera masuk saja, soal Hikari biar aku yang tangani nanti.” Ajakku.

Kemudian, kami bertiga pun berjalan masuk ke dalam rumah dan beristirahat demi mengembalikan kesegaran dan semangat kami setelah kegiatan pengamatan tadi.


***


Di dalam kamarnya, Hikari duduk memeluk kedua lututnya dan menutupi wajahnya dengan membenamkannya di antara kedua kakinya.

“Onii-chan, hontou ni baka!”

Dia kemudian mengeluarkan ponselnya dan segera mencari sebuah nama dari daftar nomor ponselnya. Setelah berhasil menemukannya, dia segera menghubungi nomor tersebut. Tak lama kemudian, panggilan itu pun tersambung, dan Hikari pun segera memulai pembicaraannya.

“Jadi besok aku harus kesana?” Tanya suara dari seberang sana.

“Ya! Cukup itu saja.” Jawab Hikari singkat.

“Baiklah! Serahkan saja padaku, Hikari-chan.” Sahut suara si penerima telepon.

“Hm, terima kasih sebelumnya. Kalau begitu sampai besok.”

TUUUT! TUUUT! TUUUT!

Hikari mengakhiri panggilan tersebut dan mematikan ponselnya. Dia lalu beranjak ke tempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya dalam posisi tengkurap, kepalanya dibenamkan ke arah bantal yang ada di ujung tempat tidur.

“Baka!”


***


“Di mana ini?” Tanyaku pada diri sendiri.

Aku kini entah mengapa berada di sebuah padang rumput yang sangat luas. Angin bertiup menerpa tubuhku dengan cukup kencang dan menggetarkan rerumputan di sekitarku.

Kulihat ke sekeliling, memang hanyalah rumput yang ada di sana. Aku tidak dapat melihat apapun, apalagi melihat seseorang di sekitar sana.

“Ayo, El-kun!”

Suara seseorang yang kukenal tiba-tiba muncul. Suara seorang gadis yang selama beberapa waktu ini selalu bersamaku. Ya, itu adalah suara Mimi.

“Tunggu! El-kun!? Maksudnya yang waktu itu kan!?”

UMWOOO! UMWOOOO!

Mimi memang datang menghampiriku, tapi dia datang dengan menunggangi gajah yang dulu terlibat dalam latihan aneh yang dia berikan. Kali ini apa yang akan dilakukannya?

“Lompatlah, El-kun!” Perintah Mimi.

Si gajah pun menurut, dia melompat ke arahku tanpa ada protes sama sekali.

“Tidaaaaaaaaak!”

Aku segera membuka kedua kelopak mataku, tersadar dari mimpi gila yang kualami.

“Eh? Kenapa aku masih terasa berat?” Tanyaku bingung.

“Haaaai, Mi-chaaan ~ “

Lavina tiba-tiba menampakkan wajahnya di hadapanku membuatku terkejut setengah mati.

“Lavina! Kenapa kau ada di tempat tidurku?”

“Kenapa? Hikari-chan yang memanggilku kemari.”

“Haaah? Aku sama sekali tidak mengerti.”

“Heee. . . Padahal kupikir kau akan senang.” Ucap Lavina terlihat kecewa.

“Memangnya siapa yang akan senang, hah? Tapi pertama, turun dari tubuhku!” Kataku memaksa Lavina agar turun dari tempat tidurku.

Lavina menuruti perintahku dengan mau tidak mau. Dia turun dari tubuhku dengan wajah yang kelihatan kecewa.

“Pantas saja aku terasa amat berat.” Gumamku.

“Jadi kau mengatakan kalau aku ini tambah berat!?” Tanya Lavina.

“Ah, tentu saja, kau jadi tambah berat saja.” Jawabku tanpa pikir panjang.

“Mi-chan, baka! Aku lebih baik membantu Hikari-chan saja di bawah.”

Lavina pergi dari kamarku dengan langkah terburu-buru, dan bahkan dia membanting pintu kamar dengan cukup keras. Dia pasti kesal karena aku mengatainya berat tadi.

Aku segera menyusulnya ke bawah dengan perasaan bersalah, namun ketika kubuka pintu Lavina justru tersenyum penuh kemenangan ke arahku dari balik pintu.

“Jadi kau mengejarku juga ya?”

Aku langsung salah tingkah ketika dia mengajukan pertanyaan itu.

“A-Apa yang kau maksud? Aku sama sekali tidak mengerti.”

Aku berjalan melewatinya dan menuruni tangga menuju ke lantai bawah tanpa memandangnya.

“Kau memang tidak pernah jujur pada dirimu sendiri, Mi-chan.”

“Sudahlah! Lagipula kenapa kau ada di sini sih? Padahal ini masih hari libur.”

“Sudah kubilang kan? Aku ke sini karena ,-“

“Aku yang memanggilnya.” Sambung Hikari yang tiba-tiba muncul di hadapanku.

“Uwaaaa! Kau mengejutkanku Hikari, tapi apa maksudmu dengan memanggilnya?” Tanyaku terkejut dengan kemunculan Hikari.

“Tidak ada alasan khusus, aku cuma meminta Onee-sama untuk menemaniku membuat kue.” Jawabnya dingin.

Dia pasti masih merasa marah karena kedatangan Falcon kemari. Padahal dia selalu bersikap manis bila ada Lavina di dekatnya. Yah, tapi apa boleh buat, ini risikoku juga karena berani membawa satu lagi makhluk dari masa depan ke rumah.

“Sudahlah Hikari-chan, jangan bersikap seperti itu pada Mi-chan. Soal Falcon, itu juga kami yang memaksanya untuk membawanya pulang.” Bujuk Lavina agar Hikari mau memaafkanku.

Hikari terdiam antara ingin marah dan tidak mau melawan perkataan Lavina. Dia nampak berpikir begitu keras, namun akhirnya. . .

“Baiklah, Onii-chan, kau kumaafkan untuk kali ini.” Ucapnya.

“Kalau begitu ayo Onee-sama, kita tinggalkan saja kakakku ini.” Katanya masih dengan sikap dingin mengajak Lavina untuk pergi ke dapur.

Selepas mereka pergi dari hadapanku, aku kemudian berjalan ke ruang tengah dan mendapati Falcon tengah duduk sendirian di sofa.

“Yo, ohayou Falcon!” Sapaku.

“Ohayou, Mikan-san.” Sapanya balik.

Aku duduk di sampingnya dan menyalakan televisi.

“Kau sendirian? Di mana Mimi-chan?” Tanyaku sembari memindah-mindah channel TV.

“Dia katanya tengah ada urusan dan baru akan kembali siang nanti.” Jawabnya tanpa ekspresi seperti biasanya.

“Aneh juga dia tidak ada di rumah sepagi ini. Oh ya, kenapa kau tidak bergabung saja dengan para gadis di dapur?” Ujarku mengusulkan.

“Aku tidak terlalu bisa beradaptasi dan bergaul dengan para manusia.” Katanya menolak.

“Ah, tentu saja, kau seorang Nitenoid, tapi apa kau tidak kesepian selalu seperti ini?”

“Aku diciptakan hanya untuk majikanku, tidak ada alasan untuk kesepian.” Jawabnya.

“Hmm. . . Hakase juga kemarin mengatakan hal yang mirip sepertimu, tapi bukannya sekarang kau jauh dari majikanmu?” Tanyaku lagi.

“Aku. . . Tidak bisa, aku seorang Nitenoid, sekalipun bersama dengan manusia aku tidak akan dapat merasakan apapun.” Jelasnya dengan wajah datar.

Aku terdiam dan kuacuhkan acara televisi di depan mataku. Kupandang Falcon sejenak, dan ternyata dia memang tidak punya ekspresi lain selain yang pernah kulihat.

“Apa boleh buat,” Kataku kemudian seraya berdiri, “Ikut denganku ke dapur!” Ajakku menarik tangan Falcon dan membawanya ke dapur.

“Tapi, aku tidak bisa. . .”

“Manusia atau Nitenoid, semuanya sama saja!”

Di dapur, Mimi dan Lavina tengah sibuk membuat adonan untuk kue mereka.

“Osh! Semuanya, tidak apa kan bila Falcon ikut dengan kalian?” Kataku menyela pekerjaan mereka berdua.

“Ah tentu saja! Kau bisa ikut dengan kami.” Sambut Lavina dengan hangat.

“Kalau Onee-sama inginnya begitu, terserah saja.” Ujar Hikari mengalah.

“Kalau begitu ayo, Falcon!”

Aku menarik lengan Falcon agar ikut membuat adonan kue bersama-sama. Kami berempat pun akhirnya membuat kue bersama-sama dengan ceria dan diselingi banyak candaan. Satu jam kemudian, adonan kami pun selesai dan tinggal memasukkannya ke dalam oven untuk membuatnya matang.

Di kala proses pembuatan kue itu, aku selalu memperhatikan sikap dan raut wajah Falcon. Ternyata, sekalipun kami membuat kue secara gembira tapi tak terlihat satu pun ekspresi bahagia di wajahnya.

“Haaah, apa ini juga tidak berhasil ya?” Gumamku sambil mendesah panjang.

“Sabar, dia pasti bisa membuka hatinya kepada kita semua.” Lavina menyemangiku sembari meletakkan tangannya di pundakku.

“Aku harap juga begitu.”


***


Malam harinya, aku bermaksud mencari angin segar dan berjalan ke arah beranda.

SREEK!

Kubuka jendela samping dan duduk di beranda sambil memandangi langit cerah yang bertabur bintang di atasku. Tak lama kemudian, Falcon muncul dari atap dan turun ke beranda lalu dia mengambil tempat duduk di sebelahku.

“Kau tidak bisa tidur?” Tanyaku padanya.

“Aku hampir tidak pernah tidur, kalaupun aku tidur itu artinya aku sudah mati atau bahkan hancur.” Jawabnya tanpa menatapku.

“Ah tentu saja, aku mengerti, bagaimanapun kau seorang Nitenoid.”

Kami berdua terdiam dan hanya memandangi langit tanpa sepatah katapun yang terlontar. Tiba-tiba, Falcon mendadak memegangi dadanya dan terlihat sangat kesakitan.

BRUK!

“Aaaargh!” Jeritnya penuh kesakitan.

“Falcon! Kau tidak apa-apa?” Tanyaku cemas.

“A-ku tidak apa-apa, haah, haah, haaah. . .”

Dia berusaha menguatkan dirinya dan kembali berdiri, tapi tetap saja rasa sakit yang dideritanya tak terhapus dari raut wajahnya. Itulah raut wajah lain dari Falcon yang baru pertama kali kulihat.

“Kau tidak apa-apa kan?”

“Ini cuma kejadian biasa, akhir-akhir ini aku memang suka merasakan panas di bagian dada. Apalagi ketika aku bersama dengan kalian tadi pagi, rasanya ada sesuatu yang hangat di dadaku, tapi harus kuakui juga bahwa yang kurasakan saat ini cukup berbeda.” Jelasnya sembari mencoba untuk kembali duduk.

“Tunggu di sini! Aku akan segera kembali.” Kataku seraya berlari masuk ke dalam rumah.

Aku kembali dengan membawa sepotong kue yang kubuat tadi pagi. Kue berbentuk hati itu kemudian kuberikan kepada Falcon.

“Tsuyoku nare?” Tanya Falcon ketika membaca tulisan di kue itu.

“Hm, manusia atau apapun bentuknya, bila dia ingin merasakan perasaan senang ataupun sedih dia harus menjadi kuat karena bila tidak begitu dia tidak akan pernah bisa bertahan meskipun sedetik. Kau pun mengalami perasaan hangat di dadamu ketika bersama kami, menurutku itu adalah perasaan bahagia.” Jelasku padanya.

“Pe-Perasaan bahagia?”

“Ya, perasaan dimana kau merasakan suatu kenyamanan dan ketenangan bila bersama dengan orang-orang di sekitarmu atau dengan apa yang kau lakukan. Perasaan itu hanya akan dapat kau rasakan bila kau dapat terus bertahan dan dapat dirasakan oleh semua manusia meskipun mereka hanya sebesar semut. Karenanya, tidak peduli Nitenoid ataupun apa, selama kau masih memiliki bagian dari manusia, kau pasti memiliki hati untuk merasakannya. Jadilah kuat untuk merasakannya!” Lanjutku lagi.

KRAUK!

Falcon menggigit kue itu dengan satu gigitan besar.

“Terima kasih banyak, Mikan-san.” Ucapnya dengan bibir yang sedikit terangkat ke atas seperti hendak tersenyum.


***


“Ah, tidak kuduga dia bisa ada di tempat seperti ini.” Kata sesosok pria misterius yang bertengger di salah satu atap rumah bersama dengan dua sosok misterius lainnya.

“Bagaimana kalau kita hancurkan saja secepatnya?” Tanya sosok lain tidak sabaran.

“Iya! Langsung kita hancurkan saja prototype tidak berguna itu.” Sahut sosok satunya lagi.

“Tidak, kita tidak boleh menyerangnya sekarang.” Jawab si pria misterius.

“Lalu kapan kita akan menyerangnya?”

“Kita tunggu sampai benda itu aktif, baru kita gunakan kesempatan itu untuk menyerangnya.”

Si pria kemudian tersenyum licik, sementara itu kedua sosok di samping kiri dan kanannya membentangkan sayapnya lebar di bawah cahaya bulan yang menyinari mereka semakin membuat mereka nampak misterius dan mencurigakan.


***


Keesokan harinya, aku bersama keempat orang anggota klub lainnya makan siang bersama di atap gedung sekolah. Kami mengeluarkan bekal makanan masing-masing dan saling menunjukkannya kepada yang lain, kecuali Makoto. Dia memang tidak mempunyai keahlian ataupun seseorang yang dapat membuatkannya makanan.

“Yooo! Bekal makananmu terlihat enak seperti biasanya, Mikan, Mimi-chan!” Kata Makoto menatap bekal makanan kami dengan kagum.

“Tentu saja, Hikari-chan pasti akan selalu membuatkan yang terbaik untuk kakaknya kan?” Ujar Lavina berkomentar.

“Ah dia tidak sebaik itu kok, Lavina. . .”

“Dia memang benar-benar baik, meski sering memarahiku juga, hehe.” Kata Mimi menyela.

“Kalau kau mengatakan itu image-nya akan jadi berbeda kan?” Komentarku.

“Tapi ada juga kan yang memarahi karena memang perhatian kepada orang tersebut, ya kan?” Kata Aiko menanggapi.

“Benar! Seperti itulah kira-kiranya.” Ujar Mimi setuju.

“Haaah, andai saja aku bisa berpikir positif seperti kalian. . .”

Aku menundukan kepalaku seraya mendesah, ketika aku mengangkat wajahku lagi, semua orang menatap ke arahku.

“Ada apa?” Tanyaku bingung kepada mereka semua.

Lama-kelamaan, aku akhirnya sadar bahwa mereka bukan memandangku melainkan memandang sesuatu yang ada di belakangku. Aku pun kemudian menoleh ke belakang karena penasaran.

“Ah! Falcon, kau datang juga ternyata.” Sapaku pada Falcon yang terbang menghampiri kami.

“Di rumah tidak ada siapapun, aku hanya ingin mencari angin segar saja.” Jawabnya.

“Kalau begitu bergabung saja dengan kami, Falcon!” Ujar Lavina menawarkan.

“Apa aku tidak akan mengganggu?”

“Yoooo! Tentu saja tidak! Kau sudah kami terima sebagai salah satu dari kami.”

“Salah satu dari kalian?”

Falcon terlihat kebingungan dalam diam, tapi kemudian Lavina dan Aiko menarik lengannya paksa agar dia duduk bersama kami.

“Ya! Kau juga harus mencoba bekal makanan kami. Sekarang cobalah punyaku!”

“Chotto, Kowai-chan! Aku duluan yang akan memberikan bekalku.”

“Apa maksudmu? Aku yang lebih dulu menariknya kan!?”

“Enak saja! Aku lebih cepat 0,0001 detik dibanding dirimu.”

“Kau mau berkelahi ya, Ribbon-chan!?” Tanya Lavina kesal.

“Kerahkan seluruh kemampuanmu kalau memang kau ingin berkelahi.” Jawab Aiko menantang.

Sementara kedua orang itu sibuk dengan pertengkaran mereka, aku dan Mimi pun menawarkan bekal makan siang kami kepada Falcon.

“Makanlah bekal ini.”

“Tapi apa ini tidak apa-apa, Mikan-san?”

“Aku sudah terbiasa memakan masakan Hikari setiap hari, jadi tidak apa. Lagipula, aku sudah cukup kenyang dengan bekal kali ini.”

“Kalau begitu terima kasih.” Ucapnya seraya mulai melahap makanan di kotak bekal makan siangku. Dia terlihat begitu senang setiap kali makanan itu masuk ke dalam mulutnya dan ditelannya. Mungkin ini kali pertamanya juga memakan masakan manusia seperti ini, hidupnya di masa depan pasti hanya penuh dengan peperangan.

Falcon, dia adalah seorang manusia setengah robot atau sering disebut android. Dia diciptakan untuk kepentingan militer demi mencapai kemenangan dalam peperangan. Aku tidak terbayang bagaimana dia dapat bertahan dalam hari-hari seperti itu, tapi mungkin itulah alasannya menutup hati dari segala perasaan yang mungkin dapat menakutinya.

“Aaah, Mi-chan! Tidak adil kau memberikan makananmu lebih dulu.” Protes Lavina.

“Mik-kun, itu kan seharusnya makananku yang dimakan oleh Falcon.” Aiko pun ikut-ikutan protes dengan wajah cemberut.

Makoto berdiri lalu berjalan ke arah dua gadis tersebut. Dia kemudian tersenyum dan menawarkan diri, “Yooo! Kalau begitu bagaimana kalau aku yang memakan bekal kalian?”

DUAGH!

“Ditolak!” Seru Aiko dan Lavina bersamaan seraya melayangkan sebuah tinju ke wajah Makoto. Makoto pun langsung jatuh tersungkur dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar.

“Yoooo! Perempuan memang menakutkan. . .”

Setelah selesai makan siang, kami semua bersiap-siap untuk kembali ke kelas dan memulai jam pelajaran selanjutnya.

“Kalau begitu sampai nanti, Falcon!” Ucap Lavina.

“Sampai nanti, Falcon!” Ucap Aiko.

“Yooo! Sampai bertemu lagi.” Kata Makoto.

“Jaa ne, Falcon.” Kata Mimi.

Aku yang paling terakhir kembali dan berada paling belakang. Namun, sebelum kembali ke kelas, aku menghampiri Falcon.

“Kau sudah mengerti kan, Falcon?”

“Apa itu, Mikan-san?”

“Tentang jadi kuat seperti yang kukatakan.”

“Jadi kuat untuk merasakan dan menyadari berbagai perasaan di sekelilingku, ya kan?”

“Ya, dan ini adalah modal besarmu untuk memulainya. Dengan menjadi bagian dari kami, dengan mengenal pertemuan dan interaksi dengan orang lain kau akan mengerti semua perasaan itu. Karena itu, jadilah kuat dan tetaplah bersama dengan kami!” Kataku pada Falcon.

“Aku menjadi bagian dari. . . kalian?” Tanya Falcon tidak percaya.

“Ya, kau sekarang sudah salah satu dari kami. Tidak peduli kau adalah Nitenoid atau apapun, sekarang kau adalah teman kami.” Jawabku.

Falcon terdiam selama beberapa saat, kemudian perlahan-lahan raut wajahnya berubah seperti orang yang hendak menangis. Bukan tangisan akibat kesedihan, itu adalah raut wajah orang yang menangis karena tersentuh kebahagiaan.

“Arigatou gozaimasu, Mikan-san.” Ucapnya.

“Ah, kalau begitu aku kembali dulu, sampai nanti.” Kataku seraya melangkah pergi dari hadapannya dan kembali ke kelas.


***


Setelah kejadian tersebut, Falcon mulai membuka hatinya kepada kami. Dia selalu ikut dalam segala kegiatan klub kami, bahkan dia pun rela ketika Makoto mengusulkannya menjadi mascot klub kami.

Falcon sedikit demi sedikit mulai mencoba untuk tersenyum dan mengubah raut wajah datar dan sedihnya. Yah, mungkin inilah yang terbaik baginya dan kami semua. Namun, suatu hari suatu kejadian pun terjadi. . .

SREK!

“Falcon tak ada di sana!” Seruku ketika baru saja masuk ke ruangan klub.

“Dia juga tidak ada di tempat biasanya dia berada!” Sambung Aiko yang datang setelahku.

“Yoooo! Ada apa ini? Kenapa dia tidak ada dimanapun?”

“Mimi, bagaimana dengan pencarianmu?”

“Aku hampir selesai, Lavina-san. Ah, sudah selesai! Aku mendapatkan koordinat lokasinya.”

“Bagus! Kalau begitu kita segera kesana!”

Akhirnya berkat petunjuk dari alat radar berbentuk seperti sebuah stopwatch milik Mimi, kami berhasil menemukan tempat keberadaan Falcon. Tanpa menunggu lebih lama, kami pun segera menuju ke tempat itu yang tidak lain adalah bukit di dekat sekolah tempat kami biasanya melakukan kegiatan Skywatching.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Beberapa saat lalu, kami bermaksud untuk mengadakan kegiatan klub seperti biasanya, tapi Falcon yang biasanya selalu datang tak juga muncul. Aku kemudian menelpon ke rumah dan bertanya pada Hikari, dan dia mengatakan bahwa Falcon tak ada di sana. Untuk memastikan kata-katanya itu pun aku segera pulang ke rumah, dan ternyata Falcon memang tak ada tanda-tanda keberadaannya di sana.

Kami semua kemudian mulai mencarinya, tapi seiring dengan berlalunya waktu kami tak mendapatkan petunjuk apapun. Yang kami dapat harapkan hanya alat dari Mimi yang dapat melacak keberadaan Falcon. Berkat alat tersebut pun, kami akhirnya berhasil menemukannya.

“Kita sudah sampai!” Seruku setelah tiba di puncak lebih dahulu.

Aku tiba-tiba terkejut ketika melihat sesuatu di depanku. Aku berdiri terdiam menatap dengan tatapan bingung terhadap apa yang terjadi di hadapanku itu.

Teman-temanku yang lain segera menyusulku tiba di puncak, dan seperti diriku, mereka pun dibuat terkejut dengan apa yang mereka lihat.

Falcon kini diapit oleh dua orang makhluk seperti dirinya dan seorang pria misterius yang menyeringai licik ke arah kami.

“Yo! Apa kalian merindukannya?” Sapanya.

“Apa yang ingin kau lakukan pada Falcon?” Tanyaku.

“Kami. . . Ingin menjemputnya.” Jawabnya.

“Men-jemput katamu!? Apa maksudmu!?”

“Kau tahu, seorang tuan yang kehilangan seorang pelayannya akan sangat kerepotan, dan tentu saja sudah jadi kewajiban seorang tuan pula untuk menjemput kembali pelayannya agar kembali ke sisinya.”

“Ja-Jadi kau ini. . .”

“Ya! Aku adalah tuan dari prototype bernama Falcon ini!” Serunya seraya menepuk pundak Falcon dengan sangat keras.

“Yooo! Hentikan itu, kau tidak berhak untuk berbicara begitu! Falcon bukan milik siapapun!” Kata Makoto membela Falcon.

“Benar apa yang dikatakan Makoto! Kami tidak akan membiarkannya!” Ujar Aiko mendukung Makoto.

Pria yang memakai setelan baju seperti seorang bangsawan dan berjalan dengan tongkatnya itu tertawa. Dia tertawa seolah-olah meremehkan kami semua.

“Kalau memang Falcon ingin kembali. . . Kita dengarkan saja pendapatnya. Nah, bagaimana Falcon?” Tanya pria itu pada Falcon.

“Aku. . . Aku. . . Aku memang salah satu dari mereka, jadi kumohon kalian jangan mengejarku lagi karena dari awal pun aku tidak berhubungan dengan siapapun kecuali dengan tuanku.”

Falcon muncul dengan jawaban yang sangat mengejutkan. Kami dibuat tidak percaya, dan terdiam tanpa bisa berkata apapun oleh jawabannya itu.

“Tidak bisa! Aku akan mengambil kembali dari dia! Kau ada bersama kami!” Seruku lantang.

“Wooo. . . Berani juga pria kecil kita ini, apa kekuatanmu itu sebesar omonganmu sampai dapat membawanya kembali?” Tantang pria misterius itu.

Aku mengulurkan tanganku ke belakang dan berbisik kepada Mimi, “Mimi-chan, tolong pinjamkan Glove-Glove yang waktu itu.” Pintaku.

Mimi memberikannya, lalu langsung kupasang kedua buah sapu tangan pelindung itu di tanganku. Aku kemudian berlari menghampiri sang pria misterius itu dan mengambil ancang-ancang untuk melepaskan sebuah tinju ke arahnya.

“Ini jawabankuuuuu!”

BUAK!

Tinjuku tepat mengenai wajahnya dan berhasil membuatnya terlempar jatuh cukup jauh.

Pukulanku itu membuat kedua anak buahnya yang lain tercengang, begitu pula dengan Falcon yang tidak menyangka aku akan berani berbuat seperti itu.

“Sialaaan! Hawk! Eagle! Jangan diam saja, lawan mereka!” Perintah si pria sembari memegangi wajahnya yang baru saja kupukul dengan keras.

“Hai! Segera kami laksanakan!” Sahut kedua anak buahnya.

“Ne, Mimi, Ribbon-chan, bisa kan kalian membantuku?”

“Apa yang kau butuhkan, Lavina-san?”

“Mimi, kau bisa kan mengatasi salah satu makhluk itu dengan alat-alatmu? Aku yakin dengan alatmu kau bisa mengalahkannya sendirian, dan untukmu Ribbon-chan, bisa kan kau membantuku mengalahkan yang satunya? Kita harus membantu Mi-chan kali ini.” Jelas Lavina mengenai strateginya.

“Aku mengerti, Lavina-san.” Jawab Mimi menyanggupi.

“Aku juga mengerti, Kowai-chan. Ayo kita membantu Mik-kun.” Sambung Aiko.

“Kalau begitu bergerak!” Seru Lavina memberi aba-aba.

“Tak akan kubiarkan kalian mendekati Mi-chan!” Serunya ketika mereka bertiga muncul di hadapanku dan menahan serangan kedua makhluk yang mirip seperti Falcon itu.

“Apa-apaan ini!?”

“Apa di tempatmu tidak ada yang mengetahui tentang Kekkai?”

“Kek-kai?”

“Kowai-chan, ini giliranmu!”

“Aku siap! Rasakan ini!”

DHUAG!

Lavina menendang salah satu Nitenoid bernama Hawk yang sebelumnya telah dihentikan gerakannya oleh Kekkai milik Aiko. Akibat tendangan itu, dia terpental cukup jauh dari tempatnya semula.

“Itulah hukumannya kalau kau berhadapan dengan mantan ketua klub karate.”

“Heee. . . Kowai-chan, kau ternyata orang yang hebat juga ya?”

“Tentu saja, aku tidak akan kalah hanya oleh kekuatanmu.”

Mereka berdua kemudian pergi menuju ke tempat Nitenoid bernama Hawk itu terpental.

Di sana, aku baru ingat. Aku baru ingat kalau ternyata dulu Lavina adalah mantan orang terkuat ketika masih SMP, dan dia adalah mantan ketua karate. Kekuatannya bahkan melebih orang dewasa, dan tidak ada seorangpun di sekolahku dulu yang bisa mengalahkannya. Aku juga sempat mendengar kalau militer tertarik dengan kekuatannya, tapi pada akhirnya itu hanya menjadi isu belaka. Lagipula, mana ada pihak militer yang ingin menyewa gadis belasan tahun sebagai anggota mereka?

ZRAAASH! ZRAAASH!

“Sa-Sayapku. . . Ba-Bagaimana bisa!?”

“Aku memotongnya dengan menggunakan Excali-Excali versi II, sebuah pedang yang dapat memotong baja sekuat dan setebal apapun.”

“Ka-Kau. . . Darimana kau mendapatkan benda seperti itu!?”

“Daripada memikirkan itu, apa sebaiknya kau menghindar?”

“Apa!?”

Mimi mengayunkan pedangnya tepat ke arah Nitenoid yang lain yang bernama Eagle. Sayang, Nitenoid itu masih berhasil menghindari serangan Mimi kali ini. Meskipun begitu, serangan pertama Mimi tadi telah berhasil memotong jatuh kedua sayapnya sehingga dia tidak dapat bergerak bebas sekarang apalagi terbang.

Sesaat tadi, aku merasa melihat diri Mimi yang lain. Sekilas terlihat bahwa dia adalah orang yang berbeda. Dia bukanlah Mimi yang polos yang kulihat seperti biasanya, melainkan dia dipenuhi oleh hasrat bertarung seakan itu adalah cara satu-satunya baginya untuk hidup. Tapi entahlah, mungkin itu hanya imajinasiku belaka.

ZUUUW!

DEG!

Tanpa kusadari, si pria misterius yang tadi sudah kulumpuhkan telah kembali bangkit, dan bahkan dia menembakku dengan senapan lasernya.

Aku terpental jatuh beberapa langkah jauhnya dari tempatku tadi dan meninggalkan Falcon. Kemudian, pria itu bergerak menghampiri Falcon dan menjambak rambutnya dengan keras.

“Kau menginginkan pelayanku yang satu ini, hah!? Jangan bercanda! Dia sangat berguna meskipun hanya sebagai keset bagiku!”

Pria itu membenamkan kepala Falcon ke permukaan tanah, lalu dia menginjak kepala Falcon dengan menggunakan sepatunya yang kotor. Dia memperlakukan Falcon bagaikan bukan manusia. Maksudku, meskipun dia bukan sepenuhnya manusia, tapi dia masih memiliki jiwa manusia di dalamnya.

“Aku tidak bisa memaafkanmu yang seperti itu! Haaaa!”

“Hooo. . . Kau masih bisa bilang begitu ya? Sangat menarik.”

“Kau brengsek! Rasakan pukulanku sekali lagi!”

Aku berlari ke arah pria itu dengan sebuah tinju yang siap kulepaskan, tapi pria itu justru tersenyum licik penuh kemenangan kepadaku. Dia menodongkan senapannya dan menembakkannya lagi ke arahku.

ZUUUW! ZUUW! ZUUUW!

Dia menembakan senapannya berkali-kali ke arahku.

Tubuhku yang lemah ini tentu saja tidak dapat menerimanya dan akhirnya jatuh tak berdaya. Beruntung, aku masih memiliki kesadaran sehingga masih bisa untuk berusaha bangkit.

“Ja-ngan. . . Mengejar-ku. . . La-gi. . .” Ucap Falcon seraya berusaha menatapku dengan wajahnya yang kini telah kotor. Dia terlihat begitu sedih, dan bahkan itu adalah ekspresi tersedih yang pernah kulihat selama ini.

Semua itu membuatku semakin tidak tahan. Kupaksakan diriku untuk kembali bangkit dan berjalan dengan tertatih-tatih ke arah Falcon.

“A-ku. . Haaah, ti-tidak akan membiarkan orang ini mem-bawamu!”


***


“Yooo! Sensei, apa kita tidak apa-apa berada di sini terus dan tidak membantu mereka?” Tanya Makoto pada Yumi-sensei.

“Ini adalah pertarungan bagi orang-orang yang memiliki kekuatan, lagipula jarang sekali kan kita disuguhi tontonan yang begitu bagus seperti film action ini?” Jawab Yumi-sensei sambil terus mengamati aksi Mikan dkk yang berusaha menyelamatkan Falcon.

“Yooo! Aku mengerti.” Ujar Makoto.

Mereka berdua yang tidak melakukan apapun hanya dapat mengamati pertarungan yang dilakukan oleh yang lain. Tapi, mereka pun berharap kalau orang-orang yang berjuang demi menyelamatkan Falcon itu dapat membawanya kembali dengan selamat.


***


“Ribbon-chan!”

“Aku mengerti, Kowai-chan!”

ZUW!

Dua buah Kekkai muncul dari dalam tanah dan menyegel pergerakan lengan Nitenoid bernama Hawk yang tengah melawan Aiko dan Lavina.

“Rasakan ini!”

DHUAG!

Lavina menghantam kepala sang Nitenoid dengan bagian belakang kepalanya sehingga dia langsung jatuh terjerembab ke tanah.

“Bagaimana, apa kau sudah merasakan hebatnya kerjasama kami?” Tanya Aiko dengan sombong karena telah berada di atas angin.

“Sialan, mereka menggunakan benda aneh untuk menahan gerakanku. Tapi tunggu, rasanya aku dapat ide untuk melawan mereka.” Gumam Hawk dalam hati sambil kemudian tersenyum licik.

Sementara itu, di tempat berlainan, Mimi melawan Nitenoid yang lain dengan semangat yang meluap. Dia mengayunkan pedang di tangannya ke arah Nitenoid itu layaknya seorang pemburu yang enggan melepaskan buruannya.

“Jangan cuma menghindar, lebih baik kau balas seranganku!”

“Cih, jangan sombong kau gadis kecil, jangan kira karena aku kehilangan sayapku aku akan kalah dengan semudah itu!”

“Kalau begitu buktikan padaku!”

Mimi mengayunkan pedangnya tepat ke arah Eagle dengan keras. Dia berhasil menghindar, sehingga serangan itu mengakibatkan retakan besar di tanah.

“Yang terpenting adalah senjata yang ada di genggamannya, kalau aku bisa menjatuhkannya maka akan menang.” Batin Eagle memperhatikan Mimi yang mulai kelelahan melawannya.


***


“Aku tidak akan menyerahkannyaaaa!”

DHUAK!

Aku menghajar si pria misterius yang mengaku sebagai pemilik Falcon itu hingga dia terbang jauh. Meskipun dengan tubuh yang babak belur akibat tembakan laser, aku terus berusaha mendekati Falcon. Usahaku akhirnya berhasil, bahkan aku sampai menerbangkan pria misterius itu.

Kupeluk Falcon dengan segera ketika aku telah berada di hadapannya. Dia nampak begitu sedih dan ingin menangis, namun mungkin karena dia diciptakan sebagai cyborg, air matanya tidak dapat keluar layaknya manusia pada umumnya.

“Sudah, kau tidak perlu bersedih lagi, aku sudah datang untuk menyelamatkanmu.” Ujarku mencoba menenangkannya.

“Bu-Bukan itu, jangan dekati aku, Mikan-san. . .” Ucap Falcon tidak jelas.

Tanpa kusadari, si pria misterius yang baru saja kulumpuhkan itu tertawa kecil dengan wajah licik ke arah kami.

“Sudah saatnya!” Ucapnya senang.

“Apa yang kau katakana, Falcon? Aku ti-dak. . .”

JREB!

Tubuhku serasa ditembus suatu benda yang dingin dan panjang.

Tak ada rasa sakit yang kurasakan, namun entah kenapa aku tiba-tiba tidak bisa menggerakkan bibirku lagi. Ketika aku menoleh ke arah Falcon, kulihat tangannya telah berubah menjadi sebuah pedang yang menembus tubuhku.

“Aaaaaaargh!” Jerit Falcon kehilangan kontrol.

“Bagus Falcon! Akhirnya emo-con yang kupasang padamu agar kau kembali padaku berfungsi juga! Hahahaha!” Tawa si pria misterius dengan senangnya.

“Kau tahu, bocah? Tak ada artinya memiliki seorang pelayan yang tak menurutimu, jadi aku menanamkan sebuah chip bernama emo-con (emotion controller) yang dapat menghapus perasaan manusianya perlahan-lahan dan akhirnya hanya dapat menuruti perintahku tanpa dapat membantah! Dan inilah waktunya! Dia sudah menuntaskan tugas pertamanya sebagai pelayanku! Hahaha!” Tambahnya.

Aku menatap Falcon dengan kedua bola mataku. Dia memang terlihat berbeda dari sebelumnya, tapi. . .

“Ini tidak mungkin terjadi, Falcon. . .”


***


“Mi-chan!”

“Mik-kun!”

“Hahaha! Kalian lihat apa akibatnya bermain-main dengan rongsokan yang baru kalian kenal!? Itulah akibatnya, lenyap dari muka bumi!” Kata Hawk penuh kemenangan.

“Lagipula kalian tidak dapat menahan lajuku hanya dengan ini!” Lanjutnya lagi.

WUUUZ! PRAAANG!

Sebuah angin yang dahsyat berhembus ke arah Aiko dan Lavina. Angin tersebut menghancurkan Kekkai milik Aiko yang membelenggu gerakan Hawk. Ternyata, angin tersebut berasal dari sayap Hawk yang masih utuh tersisa.

“Mustahil! Kekkai milikku seharusnya bisa bertahan dari tekanan sekuat apapun!” Kata Aiko tidak percaya.

“Heh! Jangan meremehkanku, para gadis kecil! Sayapku ini adalah salah satu sayap terbaik di antara para Nitenoid yang lain, jadi sekali kibas apapun dapat kuhancurkan!” Jelas Hawk dengan bangga.

“Jangan meremehkan para gadis kecil juga!” Seru Lavina seraya berlari menantang Hawk secara langsung.

Hawk menyeringai, lalu mengibaskan kedua sayapnya dengan kuat sehingga angin kuat kembali berhembus dan menghalangi gerakan Lavina. Lavina akhirnya diterbangkan oleh angin tersebut dan terbanting jatuh di kejauhan.

Di sisi lain, Mimi masih serius bertarung dengan Eagle meski dia sangat mengkhawatirkan kondisi Mikan.

“Kenapa? Apa kau mencemaskan pemuda itu?” Tanya Eagle.

“Ini tidak ada urusannya denganmu!” Jawab Mimi tegas.

“Nada bicaramu tidak enak sekali, bagaimana kalau aku mengajarimu cara bicara yang lebih baik lagi!?” Ujar Eagle seraya melepaskan sebuah serangan berupa cakaran ke arah Mimi.

Mimi yang lengah tidak dapat menghindarinya. Beruntung, dia tidak mendapat luka apapun. Namun. . .

CRANG!

Pedang dalam genggaman Mimi terbelah menjadi berkeping-keping.

“A-Apa yang sebenarnya kau lakukan?” Tanya Mimi heran.

“Ckckck, jangan kira hanya dengan mematahkan sayapku saja kau bisa seenaknya mengalahkanku. Lihat baik-baik tanganku ini!”

Mimi melihat tangan Eagle dan kemudian dia terkejut bukan main.

“Ya, tanganku ini adalah tangan yang sama seperti cakar seekor elang. Itulah kenapa codename-ku adalah Eagle. Dengan tangan ini aku dapat merobek dan membelah apapun sesukaku, termasuk mencabik-cabik tubuhmu!”

Mimi terdesak, tapi dia tetap mencoba untuk tenang.

Kini, di hadapannya Eagle tengah bersiap melancarkan serangan berikutnya sementara Mimi sudah tidak memiliki pertahanan lagi untuk membendung serangan tersebut.

“Ini akan jadi serangan yang terakhir.” Ucap Eagle sembari memperlihatkan kuku-kukunya yang sangat tajam.


***


“Yooo! Mikan! Apa dia tidak apa-apa?”

“Serahkan saja pada mereka.”

“Yooo! Tapi mereka butuh bantuan, aku juga harus membantunya!” Kata Makoto seraya berdiri berniat untuk menolong Mikan, tapi kemudian Yumi-sensei mencegahnya.

“Jangan bergerak seenaknya! Niatmu memang mungkin ingin membantunya, tapi kalau kau ke sana sekarang kau bisa mengganggu mereka!” Cegahnya.

“Yooo! Tapi kalau begini mereka semua akan. . .”

“Percayalah pada temanmu! Kau ketua klub ini, kan!? Jadi percayalah pada anggotamu!”

“Ba-Baik, aku mengerti.” Kata Makoto akhirnya mengalah dan mengurungkan niatnya.


***


“New owner identification, complete.”

Sebuah kejadian tidak terduga kemudian terjadi. Falcon mengubah dirinya sendiri menjadi sebuah armor, lalu dia memasangkan dirinya sendiri ke tubuh Mikan.

“Maafkan aku karena telah mengagetkanmu, Mikan-san, tapi inilah yang dapat kulakukan untuk membalas jasa.” Katanya kemudian.

“Falcon, ternyata kau memang bukanlah orang jahat, tapi bagaimana dengan chip yang dikatakan pria itu?” Tanya Mikan dengan penampilan barunya.

Mikan kini mengenakan armor berwarna putih dilengkapi garis-garis biru. Dia yang sekarang telah bergabung dengan Falcon membuatnya memiliki kekuatan berkali-kali lipat dari biasanya.

“Tidak usah khawatir, chip itu sudah hancur ketika kau memelukku tadi. Perasaan bahagia karena kau menolongku membuat chip itu hancur dengan sendirinya.” Jelas Falcon.

“A-Apa yang terjadi pada Falcon dank au!?” Tanya si pria misterius kebingungan.

Mikan menoleh ke arah pria itu, “Ini adalah gabungan dari diriku dan Falcon, dan dengan kekuatan baru ini kami akan menghukummu.” Jawab Mikan sambil tersenyum lebar.

“Ma-Mana mungkin manusia dan Nitenoid dapat bergabung? Ini tidak mungkiiiin!”

“Yang tidak mungkin itu justru adalah kami melepaskan Falcon! Boooost!”

Dengan dorongan dari tenaga boost dari kedua kakinya, Mikan melesat terbang dengan penampilan barunya ke arah si pria misterius itu dengan kecepatan luar biasa.

“Boost Punch!” Seru Mikan seraya melepaskan sebuah pukulan bertenaga luar biasa ke wajah si pria misterius. Akibatnya, pria itu terbang jauh ke langit dan kemudian mendarat keras ke permukaan tanah membuatnya tidak bisa bangun lagi untuk sementara waktu.

“Sekarang kau rasakan akibatnya bila bermain-main dengan kami!”


***


“Heh, nampaknya Mi-chan sudah mengalahkan boss-mu lebih dulu.”

“Sudah saatnya kita juga mengalahkanmu di sini.”

“Tuan, kenapa dia sampai bisa dikalahkan oleh bocah itu? Dasar sial.” Batin Hawk melihat tuannya yang kalah. “Kalian bisa saja bicara begitu, tapi kalian sedari tadi bahkan tak bisa mendekatiku, kan? Jangan bicara sombong seperti itu!”

“Oh, ya? Tapi apa kau sudah melihat sayapmu sekarang?”

“Sayapku?” Hawk menoleh melihat sayapnya dan nampak terkejut. “A-Apa yang kalian ingin lakukan dengan sayapku, hah!? Apa kalian pikir dapat mengalahkanku dengan menahan sayapku seperti ini? Jangan bicara bodoh!” Kata Hawk meremehkan.

“Sedari tadi aku memang hanya menggunakan Kekkai untuk menghalangi gerakanmu sehingga kau belum tahu kemampuan Kekkai-ku yang lain.” Balas Aiko dengan tenang.

“Kemampuan yang lain?”

“Ya, ini adalah kemampuan yang lain dari Kekkai-ku!”

DOOM!

Kekkai yang menyelimuti kedua sayap Hawk meledak dan menghancurkannya menjadi keeping-keping kecil besi rongsokan.

“A-Apa!? Kedua sayapku hancur! Kalian harus membayar untuk ini!” Umpat Hawk kesal.

“Sudah terlambat untuk itu, tolong berikan kekuatanmu Ribbon-chan!”

“Baik, Kowai-chan! Datanglah kapanpun kau siap!”

Lavina melompat ke depan Aiko, lalu beberapa saat sebelum dia menyentuh permukaan tanah Aiko membuat sebuah Kekkai untuk tempat pijakan kaki Lavina. Aiko kemudian memanjangkan Kekkainya ke arah depan, dan saat Kekkainya berhenti dipanjangkan, alhasil Lavina pun melesat dengan kecepatan penuh ke arah Hawk yang memasang wajah terkejut.

“Kobon Punch!”

DHUAK!

Pukulan Lavina berhasil melambungkan Hawk jauh, dan dengan pukulan tersebut mereka pun berhasil mengalahkan salah satu Nitenoid dari dua Nitenoid yang ada.

“Hebat sekali, Kowai-chan!” Puji Aiko.

“Tentu saja, pukulanku memang hebat!” Kata Lavina bangga.

“Tapi ngomong-ngomong Kobon Punch itu apa?” Tanya Aiko penasaran.

“Kobon itu dari Kowai dan Ribbon, bagus kan? Hahaha!” Jawab Lavina sambil tertawa lebar.

“Sama sekali tidak bagus. . .” Kata Aiko kecewa dengan jawaban Lavina.

Di tempat yang tidak jauh dari situ, Mimi juga nampaknya telah berhasil membalik keadaan.

“Kau! Apa yang kau lakukan dengan tubuhku!?”

“Aku hanya menggunakan Gravi-Gravi, tidak lebih.”

“Aku sama sekali tidak mengerti! Aku sama sekali tidak bisa menggerakkan kakiku, ini terlalu berat.”

“Gravi-Gravi adalah alat yang dapat mengubah gravitasi sebuah tempat, dan aku telah mengubah gravitasi di tempatmu berdiri menjadi 25 kali lebih besar dari sebelumnya, jadi tentu saja kau tidak bisa bergerak.” Jelas Mimi sambil tersenyum penuh kemenangan.

“Kau dan alatmu, dasar sialaaan!” Geram Eagle kesal.

“Ini salahmu sendiri yang tidak sabaran menyerangku, aku jadi tidak perlu bergerak untuk menembakmu dengan alat ini. Nah, sekarang saatnya penyelesaian.” Kata Mimi sembari mengutak-atik alat berbentuk pistol di tangannya.

“Apa yang kau akan lakukan kali ini!?”

“Tidak ada, aku cuma akan menembakmu sekali lagi dengan ini.”

“Menembak? Bagus! Berarti aku bisa lepas dari ini kan? Kalau begitu cepatlah!”

“Hai, Hai, Hai, Sekarang terima ini! Gravity push 100 kali lipat!”

“A-Apa!? Gra-Gravity pu-push. . .? Aaaaaaaaaaargh!”

Eagle yang sudah tidak bisa bergerak perlahan-lahan kembali bergerak karena terdorong oleh suatu tekanan yang luar biasa yang keluar dari pistol milik Mimi. Kekuatan ini sama seperti ketika Mimi terpental oleh kekuatan Reika ketika mereka bertarung.

Eagle yang tidak kuat akhirnya tak sadarkan diri ketika tubuhnya terlempat jauh dari tempatnya berdiri semula. Dia kemudian mendarat dengan armornya yang hancur berantakan akibat tekanan tadi.

“Asal kau tahu, ini adalah alat yang sama dengan kekuatan para mover. Setelah bertarung dengan orang itu, entah kenapa aku terpikir untuk membuat alat ini. Jangan pernah main-main dengan tekhnologi, ingatlah itu.”

“Nampaknya yang disini juga sudah selesai ya?” Tanya Lavina yang datang bersama Aiko menghampiri Mimi.

“Ya, ternyata mereka tidak sekuat kelihatannya. Mereka hanya punya wujud yang dapat menakuti orang lain saja, tidak dengan kekuatan dan kepintaran.” Jawab Mimi.

“Kalau begitu ayo sekarang kita bertiga pergi ke tempat Mik-kun. Kita rayakan kemenangan kita!” Ajak Aiko.

“Oooou! Ayoooo!” Seru Mimi dan Lavina setuju.

Mereka bertiga pun kemudian berjalan menghampiri Mikan yang telah lebih dahulu mengalahkan lawannya sebelum yang lain.


***


Semua orang telah berkumpul. Falcon pun telah lepas dari tubuhku dan kembali ke wujudnya semula. Dia mulai menangis melihat kami semua berkumpul di hadapannya, bukan karena sedih melainkan terharu.

“Terima kasih semuanya telah datang untuk membantuku.” Ucapnya berlinang air mata.

“Kau tidak perlu berterima kasih, kau adalah teman kami, dan saling tolong-menolong antar teman itu wajar kan?” Kataku pada Falcon yang tidak bisa menahan air matanya yang terus mengalir.

Ini memang pertama kalinya aku melihat Falcon menangis, namun aku justru senang melihatnya seperti itu. Yah, tentu saja karena ini adalah ekspresi kebahagiaannya meski dia memperlihatkannya kepada kami melalui sebuah tangisan berlinang air mata.

“Kalau kau memang mau berterima kasih, hanya ada satu hal yang bisa kau lakukan.” Kata Lavina.

“Apa itu?” Tanya Falcon sembari mengusap pelupuk matanya yang basah.

“Kau jangan pernah pergi lagi tanpa memberitahu kami.” Sambung Aiko.

“Yoooo! Jangan pernah membuat kami khawatir lagi seperti ini.” Makoto menambahkan.

“Ya, kalau kau membuat mereka khawatir lagi, pasti akan jadi kekacauan lagi seperti ini.” Ujar Yumi-sensei melengkapi kalimat seluruh muridnya.

Falcon terdiam sesaat, “Ya, aku berjanji untuk tidak akan pergi tanpa izin kalian lagi.” Ucapnya kemudian sambil tersenyum lebar dengan begitu bahagia.

Aku tiba-tiba teringat kepada Mimi dan mulai menoleh ke sekeliling untuk mencarinya. Kemudian, kudapati dia tengah menatap ke arah tiga penjahat yang berusaha ‘menculik’ Falcon. Kuhampiri dia, lalu kutepuk bahunya.

“Kau harusnya ikut berbahagia bersama dengan kami semua.”

“Ojii-chan! Kau mengagetkanku saja. Aku akan bergabung dengan kalian sebentar lagi.”

“Apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan? Jangan menyimpan masalahmu sendiri.”

“Aku hanya bingung harus kita apakan mereka bertiga ini.”

“Sudahlah, pasti seseorang atau pihak yang berwajib akan mengurusnya.”

“Kuharap juga seperti itu. . .”

“Sudahlah, yang lain sudah menunggu, ayo!”

“Hm, baik Ojii-chan!”

Setelah itu, aku bersama Mimi bergabung bersama yang lainnya merayakan keberhasilan serta merayakan kembalinya Falcon ke tengah-tengah kami semua.

Pertarungan telah berakhir dan Falcon pun memutuskan untuk tetap berada bersama kami dan menjadi salah satu dari kami. Begitulah kisah awal persahabatan kami semua dari Klub Sorami dengan Falcon, sang gadis Nitenoid yang berasal dari masa depan yang tiba-tiba jatuh dari langit.


***


Tidak lama setelah kepergian Mikan dkk, muncul sekumpulan pasukan yang mendarat dengan pesawat mereka di bukit dekat sekolah.

Salah seorang dari mereka yang nampaknya merupakan pemimpin mereka duduk mengamati pria misterius yang telah dibuat babak belur oleh Mikan. Tak berapa lama, salah seorang anak buahnya menghampirinya.

“Komandan WM (baca: Way M)! Komandan WM!”

“Ada apa, Tux?”

“Aku akhirnya berhasil menemukan identitas ketiga orang ini!”

“Siapa orang-orang ini sebenarnya?”

“Yang pria adalah Hugh Jeam, dia adalah koruptor yang kabur dari masa depan, sementara kedua wanita yang bersamanya adalah Nitenoid bernama Hawk dan Eagle. Mereka dibayar untuk mengawal pria ini.” Jelas pria yang dipanggil Tux.

Pria bernama WM yang kedudukannya lebih tinggi dari pria sebelumnya ini menepuk pundak bawahannya itu pelan seraya berdiri.

“Kerja bagus, Tux. Kau memang selalu cepat dalam hal informasi.” Pujinya.

“Tapi tidak kusangka, buronan yang kabur dari masa depan sampai datang kemari dengan dua bodyguardnya, dan yang lebih tidak kusangka lagi adalah mereka dikalahkan oleh orang-orang dari masa ini dengan sangat memalukan. Aku jadi tidak sabar bertemu dengan orang-orang yang mengalahkan mereka. “ Lanjutnya diiringi dengan sebuah senyuman kecil penuh misteri yang tersungging di bibirnya.

TSUZUKU. . . . .

Fu-Fam - Time V -

Posted by : NAKAMORI KYORYUU
Date :Sabtu, 17 September 2011
With 0komentar
Next Prev
▲Top▲